Harga Turun, Petani Karet Hijrah Kerja Serabutan

Seorang pengepul karet sedang menyusun karet hasil pembeliannya dari warga

Ilustrasi Petani Karet | Dok KS

LAHAT – Para petani karet di wilayah Kabupaten Lahat masih lesu darah, dan malas menyadap di kebun. Sebab harga jualnya hingga saat ini masih sangat rendah, hanya sekitar Rp 5.000 per kilogramnya. Sehingga mereka terpaksa memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan mencari pekerjaan serabutan seperti menjadi buruh bangunan ataupun tukang ojek.

Sejumlah petani di Kecamatan Kikim Timur, harga jual getah karet saat ini mengalami penurunan. Padahal mereka sangat berharap bisa segera mengalami perubahan, terutama pasca hari raya Idul Fitri. Namun justru terus merosot tajam ke harga paling rendah, dan hingga kini sudah menyentuh harga Rp 5.000 per kilogramnya.

Bahkan, sebelum Idul Fitri, harga jual ditingkat pengepul masih cukup tinggi senilai Rp 6.500 per kilogram. Bukannya terus naik sesuai harapan, namun anjlok setiap harinya. Mereka tidak mengetahui pasti alasan harga jual hingga terjun bebas, namun diperkirakan akibat pengaruh harga karet dunia beberapa bulan terakhir.

Akibat anjloknya harga karet beberapa bulan terakhir, banyak petani mulai kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab hasil penjualan getah karet dari hasil menyadap jauh dari kata cukup, padahal biaya hidup semakin tinggi. Sehingga jangankan untuk memenuhi biaya pendidikan dan lainnya, bisa makan tiap hari saja sudah cukup beruntung.

“Kami menggantungkan hidup dari getah karet, jadi pusing harganya terus turun. Padahal prediksi kami setelah Idul Fitri, harga jualnya bisa membaik lagi,” ujar Safri (36).

 

TEKS  : JUMRA ZEFRI

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *