Arus Balik Diprediksi Meningkat

Suasana kendaraan arus mudik lebaran yang melintas di Jalintim OKI .

Ilustrasi | Dok KS

PAGARALAM – Pertumbuhan angka penumpang arus balik dari Pagaralam diperkirakan lebih banyak dari jumlah kedatangan saat arus mudik lalu. Hal itu terindikasi dari masih ramainya penumpang arus balik ke kota besar seperti Palembang dan sejumlah kota di Pulau Jawa.

Topik, pelaku biro travel Melati Indah rute Pagaralam-Palembang mengatakan, hingga saat ini arus balik masih mengalami masih banyak penumpang yang berangkat.

“Setiap hari, kita memberangkatkan sekitar 6-8 bus tujuan Pagaralam-Palembang,” ujarnya, Rabu (6/8).

Serupa dikatakan Basit,  pengurus bus Telaga Biru tujuan Palembang, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Yogyakarta, dan Bandung mengakui hal itu. Ia mengatakan, dalam satu pekan terakhir pasca lebaran Idul Fitri 1435 H, pertumbuhan penumpang arus balik masih tinggi.

“Pada saat mereka datang ke Pagaralam sendirian, tapi saat balik ke kota mereka sekarang banyak yang mengajak sanak saudaranya,” kata Basit.

Lanjutnya, sejumlah perantau itu banyak kerabat lama yang juga dikenalnya. Sehingga ia tahu persis saat mereka kembali ada tambahan penumpang.

“Hal biasa bila para perantau itu mengajak sanak saudaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik ke daerah lain,” jelasnya.

Kendati demikian, walaupun belum ada data persis jumlah arus urbanisasi atau perpindahan penduduk ke kota besar, Hendri Ganesha, Tokoh Pemuda Kota Pagaralam  memastikan bahwa setiap tahun arus urbanisasi dari Bumi Besemah menuju kota-kota besar pasti terjadi.

“Hal itu biasanya terjadi ketika usai lulusan anak sekolah maupun liburan lebaran seperti saat ini,” katanya.

Ditambahkan Pengamat Budaya Besemah, Tumenggung Citra Mierwan mengemukakan,  tradisi merantau di kalangan orang Besemah memang tidak sekental orang Minang. Namun menunutnya,  keturunan Besemah termasuk orang yang senang menjelajahi negeri baru.

“Ya, hal itu dipengaruhi budaya urbanisasi, seperti melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan termasuk ingin mengembangkan usaha baru. Selain itu lapangan pekerjaan yang ada  di Bumi Besemah pun terbatas, sehingga mereka berharap dapat mendapatkan pola hidup baru di tempat baru,” jelasnya.

Selain itu tambahnya, ada pula karena keengganan bekerja di sektor pertanian karena dianggap tidak menghasilkan lagi seperti dulu. Padahal di tempat baru status sosial mereka juga tidak otomatis terangkat karena tidak punya keahlian lain.

“Jika belum juga mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, ujung-ujungnya mereka hanya menjadi karyawan pabrik,” terang Mirwan seraya berujar memang perlu ada solusi terbaik dari Pemerintah Kota Pagaralam agar masyarakatnya dapat lebih nyaman dan mandiri ditanah kelahirannya sendiri.

 

TEKS   : ANTONI STEFEN

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *