ESP Bantah Lakukan Pemukulan

Eddy Santana Putra

Eddy Santana Putra

PALEMBANG – Terkait laporan warga bernama Abdulah yang mengaku menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan (PDIP) Sumsel, Eddy Santana Putra (ESP) membantah dengan tegas oleh ESP dan merupakan fitnah. Kejadian sendiri berlangsung di Kantor PDI Perjuangan Jalan Basuki Rahmat, Kamis (26/6/2014) lalu.

ESP dalam konfrensi pers-nya menyebut pengakuan Abdullah adalah fitnah dan tidak benar.” Abdulah itu bukan anggota partai dan pengakuan dia itu tidak benar, saya dan pengurus tidak pernah memukul seperti yang dia katakan,” ucapnya.

Namun memang ESP mengakui jika Abdulah di hari kejadian tersebut memang benar menyambangi kantor PDI Perjuangan dan pihaknya tengah menggelar rapat. Karena situasi rapat maka Abdullah tidak diperbolehkan masuk ke dalam kantor PDIP Sumsel.

“Saya dengar ada ribut ribut dan mendengar dia (Abdulah) memaksa masuk. Disuruh isi buku tamu tidak mau. Kemudian saya keluar dan nasihatinya. Saya juga sempat memberikan Abdullah itu uang senilai Rp 1 juta. Lalu menyuruhnya pergi,” terang mantan Walikota Palembang ini seraya menambahkan Abdullah kemudian mencium tangan dirinya dan meminta maaf.

Hal serupa juga dikatakan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Sumatera Selatan (Sumsel) M Aliandra Pati Gantada membantah pihaknya telah melakukan aksi pengeroyokan terhadap Abdullah Husin.

Menurut Gantada, laporan yang dilayangkan Ketua Ormas Perkumpulan Komering Ulu, Komering Ilir dan Jawa itu pada Jum’at (27/6) silam, sama sekali tidak benar dan pihaknya siap menuntut balik.

“Laporan itu tidak benar. Kami tidak melakukan pengeroyokan. Ini perbuatan tidak menyenangkan, pencemaran nama baik dan kami akan tuntut balik,” terang Gantada.

Gantada sendiri mengaku berang terkait laporan warga Jalan Mayor Zen, Lorong Darja, RT 4, RW1, Kecamatan Kalidoni, Palembang. Apalagi, pelapor menyebut namanya ikut terlibat langsung aksi pemukulan.

” Tidak benar, itu fitnah. Tidak ada perbuatan seperti itu. Semua itu mengada-ada,” tambah gantada.

Husin sendiri kemarin, melaporkan Ketua DPD PDI P Sumsel yang juga Ketua Tim Pemenangan Capres-Cawapres Jokowi-JK Sumsel Eddy Santana Putra (ESP) ke Polda Sumsel atas kasus dugaan  pengeroyokan terhadap dirinya hingga menderita luka lebam diwajah.

Di mana kejadian dialaminya ada Kamis (26/6) sekitar pukul 14.38 WIB di kantor DPD PDI P Sumsel, Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Ario Kemuning, Palembang.

Di mana menurut pengakuannya ( Abdullah ) mendapat SMS dari mantan Walikota Palembang dua periode itu untuk datang ke kantor DPD PDIP tersebut. Namun saat datang ke lokasi kejadian ESP sedang menggelar rapat bersama kader PDI P.

Korban yang menunggu di luar kantor DPD PDIP lalu mengirim pesan singkat kepada ketua DPD PDI P Sumsel itu.” Saya SMS ke dia, hubungan kerjasama kita berakhir. Karena dia (pelaku) sempat meminta penggerakkan massa sekitar 300 orang untuk kedatangan Jokowi kemarin. Tapi, waktu saya sudah siapkan tepatnya hari Selasa, tiba-tiba dibatalkan, saya rugi sudah menyewa bus dan perlengkapan lain, hari Kamis waktu kejadian dia (ESP) SMS ingin bertemu di kantor PDI P. Mungkin dia emosi karena saya minta kerjasama diakhiri,” terang korban ketika melapor di Polda Sumsel.

Tak lama setelah ia mengirimkan SMS, kata Husin, ESP langsung keluar dan tiba-tiba melakukan penggeroyokan terhadap dirinya.

“Saat kejadian,saya datang bersama teman saya Ahmad Fauzi (43), dia menjadi saksi saya dan melihat saya dikeroyok 20 orang, termasuk Eddy dan Wakil Ketua DPRD Sumsel, Gantada. Saya sempat pingsan waktu dipukuli,” beber Abdulah seraya menambahkan dirinya ketika sadar telah berada di dalam ruangan lain dan diancam puluhan kader PDI P untuk tidak melaporkan kejadian.

Terpisah kuasa hukum korban, Wisnu Oemar, meminta kasus ini segera ditindaklanjuti pihak Kepolisian.

” Kami minta kasus ini dapat ditindaklanjuti. Kami harap petugas tidak pandang bulu dan tidak terpengaruh intervensi pihak politik,” ucap  Wisnu Oemar.

Wisnu juga menerangkan jika kemarin korban yang sudah berobat ke RS Pusri diduga sudah sembuh, namun nyata, korban masih susah  bernafas. ” Sejak awal susah bernafas, tapi siang tadi lebih  parah,” kata Wisnu ditemui di IGD RS Bhayangkara Sabtu lalu.

Dijelaskannya, korban mengalami memar di bagian tulang dada remuk,  pusing kepala dan robek di bagian tubuh dan dagu serta memar di bagian dada sebelah kiri.

 

TEKS: Ardhy Fitriansyah

EDITOR: SARONO P SASMITO




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com