GKI Hentikan Pengelolan Sampah

Aktivitas Pengolahan Sampah di TPA

Aktivitas Pengolahan Sampah di TPA

PALEMBANG – PT Gikoko Kogyo Indonesia (GKI), perusahaan yang dipercaya Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, dalam mengelola sampah menjadi gas metan, terpaksa menghentikan pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, Kelurahan Sukaraja Palembang.

Pasalnya pemkot, tidak memberikan kepastian jelas terkait pembuatan sumur produksi. Manager PT Gikoko Kogyo Indonesia, Hendri mengatakan, adanya sumur produksi sangat penting, sementara pemkot sampai saat ini masih membuatnya.

“Kami harus hentikan produksi, karena kami tidak tahu dimana zona di TPA Sukawinatan yang dapat dijadikan sumur untuk produksi. Sebab, dari delapan zona yang ada hingga kini baru satu zona saja yang dapat dikelola,” kata Hendri, Kamis (19/6).

Hendri mengaku, pihaknya sudah melakukan penghentian produksi selama dua minggu terakhir. Karena, jika produksi dengan kondisi sumur yang ada sekarang, sudah tidak layak untuk dieksplorasi lagi. Katanya, bila masih dilakukan, akan membuang operasional dan tenaga saja.

“Maksudnya walaupun mesin dihidupkan, tapi pembakaran gas metan yang dihasilakan tidak sesuai. Sementara dalam hitungan ideal pengeluaran. Delapan jam sehari membutuhkan biaya sekitar Rp 500 ribu,” bebernya.

Hendri menyebutkan, selain masalah sumur produksi ada juga persoalan lain yang belum selesai, yakni penandatangan memorendum of understanding (MoU) dengan pemkot yang sampai saat ini belum dilakukan.

Sebab terang Hendri, mereka masih menunggu keterangan lanjutan dari Pemkot Palembang. Karena ini menyangkut produksi listrik yang akan dihasilkan. “Bukan hanya dikelola untuk menghasilkan gas, tetapi sebagian dari gas metan ini juga kita olah menjadi energi listrik. Selain berfungsi untuk menghidupkan mesin pengeolahan sampah, energi ini juga kita manfaatkan untuk kebutuhan listrik di sekitar perusahaan,” ujarnya.

Hendri menambahkan, di TPA Sukawinatan itu, ada delapan zona pengeboran yang akan dikelola. Namun, saat ini baru satu zona saja yang dapat diolah, yakni zona L. Sedangkan untuk zona lain, tumpukan sampah belum mencapai ketinggian 10-15 meter sebagai syarat pengeboran, dan tumpukan sampah harus di buat menyerupai trap dengan bentuk piramida.

“Untuk titik tertinggi baru dapat dilakukan pengeboran yang berfungsi untuk penangkapan zat metan, yang pasti kalau ini masih mau dilanjutkan, kami mengharapkan kejelasan,” tukasnya.

 

TEKS              : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *