Bus Air Tak Diminati Masyarakat

salah satu bus air

salah satu bus air

PALEMBANG – Bus air, yang penggunaanya sudah di operasikan sejak April 2013 lalu oleh PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J), ternyata tak diminati masyarakat. Itu terlihat dari sepinya jumlah penumpang alat transportasi air itu.

Manajer Unit Usaha Transportasi PT SP2J, Joko Santoso menyebut sepinya penumpang bus air ini disebabkan mahalnya tarif bus air tersebut. Saat ini, tarif untuk bus air Rp 5000 untuk rute Benteng Kuto Besak (BKB)-Sei Lais dan rute BKB-Kertapati.

“Sepinya penumpang bus air, bukan karena kita kurang sosialisasi. Sosialisasi, sudah kita lakukan dengan berbagai cara. Misalnya, baik dengan memasang spanduk maupun di media masa. Namun karena tarifnya mahal dibandingkan transportasi darat, makanya banyak warga yang enggan menggunakan bus air,” kata Joko yang dibincangi, kemarin.

Kenapa tarif bus air lebih mahal, itu jelas Joko karena umumnya biaya angkutan di sungai mahal, seperti untuk solar harganya mencapai Rp 6.500 per liter. “Jadi mau tidak mau tarif akan tinggi, saat ini hampir tidak ada angkutan setiap harinya. Artinya nihil, pengguna bus air ini,”ujarnya.

Joko juga menerangkan, saat ini baru ada dua unit bus air yang di operasikan SP2J. Karenanya ia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, bisa menambah jumlah bus air.

Sementara itu Nuraini, salah seorang warga Kertapati saat di bincangi hendak menggunakan angkutan kota (angkot) mengaku enggan menggunakan bus air.  Ia lebih memilih menggunakan angkot, dibandingkan bus air.

“Lebih baik menumpang angkot, dibandingkan bus air. Sebab ongkos angkot lebih murah. Selain itu, jika menggunakan bus air waktu tunggunya lebih lama sebab dari BKB ke Kertapati, hanya ada satu bus air,” jelasnya.

Ibu satu orang anak ini mengaku selain menggunakan angkot, ia juga beberapa kali menggunakan transportasi sungai yakni Ketek. “Ketek tarifnya lebih murah dibandingkan bus air, tarifnya hampir sama dengan angkot. Sudah itu, tidak perlu lama menunggu karena banyak ketek yang mangkal di Dermaga Pasar 16 Ilir,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Murni, warga Kelurahan 5 Ulu. Ia mengaku walau letak rumahnya lebih efisien dijangkau menggunakan transportasi air, namun ia lebih memilih menggunakan ketek dibandingkan bus air.

“Kalau naik bus air, kita ditarik Rp 5000 baik untuk penumpang anak-anak maupun dewasa untuk sekali jalan.  Sementara ketek, bisa lebih murah. Selain itu, tidak perlu capek menunggu jika menggunakan ketek,” tukasnya.

 

Teks     : ALAM TRIE PUTRA

Editor    : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *