Tersangka Proyek Cetak Sawah Batal Diperiksa

PALEMBANG – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel), batal memeriksa tersangka dugaan kasus korupsi proyek cetak sawah di Kabupaten Banyuasin, yang sudah dijadwalkan Senin (14/4) kemarin.

Batalnya pemeriksaan terhadap Madian, mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan (Kadistanak) Kabupaten Banyuasin, lantaran sakit. Pihak penyidik bakal membuat pemanggilan kedua terhadap Madian.

“Ya tadi pengacaranya datang dan memberitahukan bahwa M sedang sakit dan perlu istirahat. Tapi akan kita periksa terlebih dahulu kebenarannya. Bila perlu akan kita cek ke rumah sakit dan menanyakan ke dokter yang mengeluarkan surat keterangan tersebut,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel, Kombes Pol  Eddy Purwatmo, melalui Kasubdit III Tipikor, AKBP Imran Amir, Senin (14/4), kemarin.

Lanjut Amir, pihaknya juga akan membuat surat panggilan kedua terhadap Madian. Bila alasan dan keterangan dari yang bersangkutan tidak sesuai, maka pihaknya akan melakukan tindakan tegas. “Kalau panggilan kedua masih tidak datang maka akan kita jemput,” tegasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, dugaan korupsi program cetak sawah di Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin menyeret dua orang pegawai negeri sipil di Dinas Pertanian dan Perternakan (Distanak) Kabupaten Banyuasin.

Yakni, Hermansyah, Kasi Sarana dan Prasarana Distanakan Banyuasin dan Muslimin, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Distanak Kecamatan Pulau Rimau. Kedua tersangka ini juga telah menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Palembang.

Dalam sidang tersebut, dua terdakwa mengakui semua perbuatannya yang diduga telah melakukan pemotongan anggaran. Pada 2012 lalu, Distanak Banyuasin menerima dana bantuan kegiatan perluasan areal tanaman pangan (cetak sawah) dari DIPA APBN Kementrian Pertanian RI dengan total anggaran Rp18 miliar untuk luas lahan mencapai 1.800 hektare.

Selama proses pencairan dana tersebut, kedua terdakwa terus memotong dana pencairan dengan total kerugian Negara mencapai Rp 3,3 miliar. Namun demikian, keduanya mengakui bahwa perbuatannya tersebut atas perintah lisan dari Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan (Distanak) Kabupaten Banyuasin, Madian.

 

Teks     : Oscar Ryzal

Editor    : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *