Duh, Ada Perbudakan di OKI

para korban perbudakan di OKI Yulistianti, Tasya Adelia, Eka Oktaviani, Umaidah dan Triyani, yang kesemuanya adalah warga Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung

para korban perbudakan di OKI Yulistianti, Tasya Adelia, Eka Oktaviani, Umaidah dan Triyani, yang kesemuanya adalah warga Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung

– Korbannya Enam Remaja Asal Lampung

– Gaji tidak Dibayar dan Disiksa

KAYUAGUNG – Ironis, ternyata praktik perbudakan masih terjadi. Tragisnya, itu terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel), tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Korbannya, adalah enam remaja belasan tahun yakni Riski Wulandari (18), Yulistianti, Tasya Adelia, Eka Oktaviani, Umaidah dan Triyani, yang kesemuanya adalah warga Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung.

Informasi yang dihimpun, ke enam remaja ini satu tahun lebih bekerja di Toko Baju dan Sepatu Sahabat, di Desa Tugumulyo, Kecamatan Lempuing, Kabupaten OKI, namun tidak mendapatkan gaji sama sekali.

Tak hanya hak nya yang tidak dibayarkan, ke enam korban tersebut juga harus menderita kekerasan fisik. Mereka diduga disiksa pemilik toko tersebut, Hj Maimuna (65). Kasus ini terungkap setelah ke enam korban berhasil bebas dari tempat mereka bekerja setelah dijemput oleh keluarganya masing-masing yang meminta bantuan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dibincangi Kabar Sumatera, Kamis (3/4), Riski Wulandari, salah satu korban mengaku, mereka diperlukan seperti hewan. Sebab bekerja melampaui batas, yakni sampai pukul 00.00 WIB. “Selain bekerja di toko, kami juga setiap malam ada pekerjaan rutin memijat majikan, itu berlaku bagi semuanya yang bekerja,” aku Riski.

Walau tidak tahan pendapatkan perlakuan tidak manusiawi tersebut, namun menurut Riski, ia dan lima temannya tidak bisa berbuat apa-apa. Ke enam korban pun tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga apalagi orang lain.

“Handhone (HP) kami, semuanya diambil. Sehingga kami tidak bisa berkomunikasi, dengan siapapun. Sampai kami bebas saat ini, HP yang diambil tersebut belum juga dikembalikan dan masih sama dia,” terang Riski.

Ia menerangkan, pertamakali bekerja di majikannya tersebut pada 25 September 2012 lalu, sesuai dengan surat kontrak yang ia tandatangani. Sejak tandatangan kontrak hingga berakhirnya kontrak, ia dan lima temannya sebut Riski, tidak pernah menerima sepeserpun gaji yang menjadi hak mereka.

“Kami juga tidak digaji, padahal dijanjikan gaji kami satu bulannya Rp 1 juta. Gaji itu tidak dibayarkan, dengan alasan baru akan dikasih, jika kontrak kerja selama satu tahun sudah selesai. Tetapi walau kontrak kerja sudah selesai, tetap saja gaji kami tidak dibayarkan sama sekali,” tuturnya.

Pengakuan yang sama disampaikan Tasya Adelia, korban lainnya. Ia mengaku, tidak hanya mendapatkan tekanan batin selama bekerja namun juga majikannya tak segan main pukul kepada mereka.”Saya sendiri pernah dicekik, dipukul pakai sepatu oleh Hj Maimuna” aku Tasya.

Yang paling menyedihkan, sang majikan melarang mereka untuk shalat, bahkan untuk memakai jilbab juga tidak boleh. “Dia bilang disini kamu mau cari duit, apa mau ibadah. Jadi kalau mau shalat, kami diam-diam” ungkapnya.

Hal lain yang menimpah mereka ditambahkan Yuslianti, untuk makan sehari-hari, sang majikan hanya memberikan beras secanting untuk makan berenam. “Untuk makan kami berenam, perharinya hanya diberi beras secanting, untuk dimasak,” imbuhnya.

Menurut remaja yang baru lulus sekolah menengah ini, awalnya kenal dengan sang majikan bermula melalui Ana, yang mencari tenaga kerja untuk toko miliknya Hj Maimuna. ” Kami bekerja di tempat itu, awalnya ditawari oleh ibu Ana, yang merupakan orang Lampung. Dia memberi tahu ke kami kalau ada temennya yang mau mencari orang untuk bekerja, tawaran itu kami terima. Namun jauh dari harapan, bukannya gaji yang didapat malam kami tersikasa selama bekerja,” ungkap Tasyah saat melapor ke SPK Polres OKU, kemarin.

 

TEKS            : DONI AFRIANSYAH

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *