Warga Menjerit, Harga Karet Terjun Bebas

Jual Beli Hasil Karet

Jual Beli Hasil Karet

PALI – Bagi petani karet, setelah musim penghujan merupakan masa-masa yang menyenangkan. Betapa tidak, bila saat kemarau produksi karet menurun sampai 60 persen, seusai musim hujan atau awal tahun seperti ini produksi meningkat menjadi normal kembali. Untung besar sudah membayang dibenak para petani.

“Masuk musim hujan, kita kan melakukan pemupukan. Nah saat sekarang produksi sudah meningkat dan kembali normal,”  kata Piden, warga Tanah Abang.

Namun keuntungan yang sudah terbayang itu mendadak sirna. Meskipun produksi meningkat tapi harga justru turun drastis. Warga Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yang mayoritasnya pekerjaannya sebagai petani karet, tentu saja sangat mengeluhkan dengan anjloknya harga karet ini.

Pantauan KabarSumatera, penurunan ini terbilang drastis dibeberapa daerah  turun hingga mencapai Rp4,5 ribu-Rp5 ribu setiap kilogramnya.

“Memang pak, harga karet disini sangat memprihatinkan. Sedangkan karet merupakan pekerjaan rata-rata orang dusun ini pak. Jadi sangat pengaruh pak kalau harga karet murah,” ujar Soneta, warga kecamatan Abab, Senin (17/2).

Dirinya juga mengharapkan kepada pemerintah setempat, untuk mencari solusi akan anjloknya harga karet sehingga mampu memberikan peningkatan hasil tani. “Semoga saja pemerintah bisa memperhatikan benar, kita masyarakat petani karet, untuk mensejahterahkan petani karet,” harapnya.

Penurunan harga ini bukan saja terjadi di Kecamatan Abab dan Tanah Abang saja. Seperti dituturkan warga Benuang kecamatan Talang Ubi yang juga mengeluhkan penurunan harga ini. “Beberapa bulan lalu, harganya mencapai Rp 9000,- tapi sekarang sudah Rp 5000,-” ujar Dier, warga Benuang.

Menurutnya, warga harus menyediakan modal untuk membuka lahan. Disamping harus menyediakan bibit, petani juga harus menyediakan modal untuk pembukaan lahan. “Sebentar lagi kita mau masuk musim buka lahan. Butuh modal, kalau begini kita jadi ragu untuk buka lahan meremajakan karet yang sudah tua,” tambah Dier.

Terpisah, Sani, seorang pengepul karet warga menyatakan, dirinya tidak mampu berbuat apa-apa. “Aku cuma pembeli saja pak, kalau masalah harga tergantung dengan pabrik. Jadi kita ikuti pembelian dari pabrik. Kalau tidak kami bisa rugi pak, dan tidak bisa ngepul lagi,” ujarnya.

 

Teks/Foto    : Indra Setia Haris

Editor           : Junaedi Abdillah

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *