Calon Presiden RI Kunjungi Kabar Sumatera

Oleh Ahmad Maulana

Calon-Presiden-RI---Anies-Baswedan-saat-berkunjung-di-Harian-Umum-Kabar-Sumatera

Calon Presiden RI – Anies Baswedan saat berkunjung di Harian Umum Kabar Sumatera. / Foto : Bagus Kurniawan /KS

Dua hari sebelum kedatangan Anies Baswedan (ABW), salah satu Calon Presiden Indonesia RI ke Kantor Harian Umum Kabar Sumatera (KS), Pemimpin Redaksi Harian KS, Imron Supriyadi beberapa kali harus melakukan kontak dengan Awalil Rizky, Pengurus Pusat Barisan Nusantara, yang menjadi mediator ABW dengan Harian KS. “Mas, besok kami siap menerima Mas Anies di kantor Kabar Sumatera,” ujar Imron kepada Awalil  guna memastikan kunjungan ABW ke Harian KS.  “Oke, Mas. Besok Insya Allah dari Bandara kita akan singgah dulu di kantor KS. Tapi kalau melihat agendanya, ada juga kunjungan ke media lain, ya? Coba Mas Imron bisa juga pastikan ke media lainnya,  ada nggak ada personil yang menerima kita. Sebab ini kan Sabtu mungkin mereka libur. Terus kita tidak bisa lama-lama, sebab kalau ada media lain yang dikunjungi kita harus bagi waktu,” ujar Awalil memastikan kedatangan ABW ke Harian KS.

“Gimana, Mas Imron, Pak Anies jadi berkunuung ke kantor kita?” tanya Nana Eka Nugraha, General Manager Harian KS pada Imron, lima jam sebelum ABW sampai di kantor KS. “Insya Allah jadi, Mas. Sebab, saya sudah kontak dengan Mas Awalil, mereka sudah jemput di Bandara, langsung meluncur kesini,” ujar Imron memastikan kedatangan  ABW yang merupakan cucu pahlawan nasional Abdul Rahman Baswedan alias A.R. Baswedan.

Tepat hari Sabtu, (25/1) sekitar pukul 16.05 WIB, ABW–peraih gelar Philosophy Doctor dari Northern Illinois University dengan disertasi tentang “Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia” ini sampai juga di Kantor Harian KS.

ABW, kali itu mengenakan baju hijau muda (pupus) dengan paduan stelan celana dasar warna hitam. Sebuah tampilan tokoh yang tidak terlihat sebagai pejabat, melainkan seperti orang biasa, meski faktanya Anies adalah sosok yang “luar biasa” di mata dunia.

“Apa kabar semua kawan-kawan?” ABW turun dari mobil Inova warna hitam dan menyalami jajaran Harian KS. Senyum ramah seketika mengulas dari bibir Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini (non aktif). “Selamat datang Mas Anies,” ujar Nana Eka Nugraha, menyalami ABW sembari mendampingi masuk ke kantor Harian KS bersama Imron Supriyadi. Nyaris, kali itu ABW tidak melewatkan seorangpun dari karyawan Harian KS untuk bersalaman. Karena Hari Sabtu, sebagian wartawan dan karyawan hanya masuk setengah hari, sehingga sebagian karyawan tidak dapat ikut hadir  menyambut penggagas Indonesia Mengajar ini.

Perbincangan kian hangat ketika beberapa waktu kemudian hadir juga sejumlah undangan lain, seperti DR Tarech Rasyid, M.Si, Pengamat Sosial dan Politik di Palembang dan Yudi Fahrian, SH,MH, akademisi Universitas IBA Palembang.  Bahkan sebagian pengurus Barisan Nusantara Sumsel juga hadir. Termasuk Ketua Rumah Tahfidz Sumsel, Ustadz A Fauzan Yayan, SQ, yang sejak awal ikut memandu alamat Harian KS dengan Awalil Rizky.

Ada sekitar 45 menit lebih tokoh dunia yang meraih penghargaan Young Global Leaders pada Februari 2009 dari World Economic Forum, satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi Majalah Foresight yang terbit di Jepang pada April 2010 ini di Harian KS. Banyak hal yang kemudian ia cetuskan dalam dialog santai kali itu. Diantaranya kritik terhadap istilah Sumber Daya Manusia (SDM) yang selama ini dipakai Indonesia.

Seperti diketahui, ABW sejak lama mengganti istilah SDM menjadi kualitas manusia. Di mata ABW, manusia Indonesia tidak boleh dipandang semata-mata sebagai sumber daya. “Sebab manusia Indonesia nilainya lebih dari itu. Jika kita menggunakan istilah SDM, ini mengesankan kalau manusia hanya sebagai instrumen. Tetapi kalau kita sebut dengan kualitas manusia, akan lebih manusiawi, sebab menekankan manusia sebagai subyek yang kreatif dan harus terus-menerus mengalami perbaikan kualitas hidup,” ujarnya.

Ketika memakai istilah kualitas, kuat kesan bahwa Anies memang serius memperbaiki kondisi warga bangsa ini. Ia telah menemukan masalah bangsa sekaligus penyelesaiannya. Dan yang menjadi fokus utamanya adalah perbaikan kualitas manusia Indonesia. Kualitas di sini bukan hanya berarti cara berpikir dan merasa, tetapi juga etos seluruh warga bangsa. Ia mencerminkan keadaban mulia sebagai unsur penting dalam menciptakan peradaban.

Bagi Anies, titik berangkat kesejahteraan bukan dari perspektif SDA (Sumber Daya Alam), melainkan harus berangkat dari titik kesadaran bahwa garda terdepan untuk meraih kemenangan adalah kualitas manusia. Dan kualitas manusia hanya bisa diraih lewat pendidikan berkualitas.

Sementara, Anies menyebutkan, sebab utama pendidikan berkualitas itu sendiri bukan lantaran gedung, buku, kurikulum atau bahasa yang berkualitas. Akan tetapi didorong oleh kepemimpinan yang menggerakkan manusia Indonesia serta menginspirasi, dan bukan mendikte. Kepemimpinan bersifat patron-client sudah out of date. Yang lebih up to date (cocok dengan perkembangan zaman) justru kepemimpinan yang dapat membuat orang bergerak, turun tangan, dan berkontribusi menyelesaikan masalah.**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *