Karya Sastra Tanpa Kapital

hlll-(1)

Foto : Bagus Kurniawan KS

PALEMBANG KS

Menyoal polemik isi 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengruh memang sepertinya sangatlah pantas dibaca. Namun begitu, perlu disadari bahwa di Nusantara ini banyak sekali sastrawan-sastrawan yang karyanya luarbiasa.

“Nah, kalau buku itu sudah terbit, lalu mau apa lagi?,” cetus el Trip Umiuki, salah satu pegiat sastra asal Tanggerang

Ucapnya, tanpa mengecilkan isi buku itu, pada prinsipnya kualitas sastra di nusantara ini sangat bagus. Banyak sekali generasi sastrawan muda yang tampil percaya diri.

“Walau begitu, nyatanya sedari zaman dulu seolah-seolah sastrawan itu identik dengan pujangga anggkatan baru atau angkatan 66. Yang terakhir mungkin saja ada di buku 33 tokoh sastra Indonesia yang berpengaruh itu,” ungkapnya.

Pendiri lembaga Tifa Nusantara ini berkata, sudah saatnya antara sastra denfgan Bahasa Indonesia ini dipisah. Alasannya, kata Trip.

“Karena banyak sekali guru Bahasa Indonesia kita yang tidak memahami sastra. Kita berharap ada sinergi antara guru dan pelaku sastra,” katanya.

Terakhir, Trip berharap, semoga ke depannya akan lahir para sastrawan muda yang karyanya berlimpah.

“Saya kira tantangan yang terbarat itu adalah bagaimana sastra ini membuat orang di Nusantara ini adem-adem saja. Semoga lewat sastra ini tidak membuat orang menjadi liar dan korupsi. Jujur saja, karya sastra sesungguhnya tak kenal apa itu nilai kapital,” harapnya.

 

TEKS:RINALDI SYAHRIL

EDITOR:IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com