Saparudin : Empat Tahun Bergantung Pada Tongkat

Saparudin (kanan), bersama salah satu penyandang cacat dan Athong Dewanto ketua LCKI Kab PALI dengan kaki palsu yang baru diterimanya. | Foto : Indra SH

Saparudin (kanan), bersama salah satu penyandang cacat dan Athong Dewanto ketua LCKI Kab PALI dengan kaki palsu yang baru diterimanya. | Foto : Indra SH

-Dapat Kaki “Baru”, Siap Nyadap-

PALI | KS –Wajahnya sumringah nampak terpancar dari raut wajah Saparudin. Usaha menunggu lama demi mendapatkan kaki “Baru” alias kaki palsu terbayar sudah.

Dengan pengeras suara, panitia pembagian kaki palsu memanggil warga Desa Betung, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Pematang Ilir (PALI), ini.

Saparudin bergegas menuju sumber suara sambil meraih tongkat kayu penyangga kakinya.

Hari itu, Sabtu (7/12), lalu, Saparudin, merupakan satu dari 107 warga penyandang cacat yang menerima kaki palsu dari Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI), Sumatera Selatan (Sumsel).

“Selama empat tahun saya bergantung pada tongkat kayu ini. Tanpa ini, saya merangkak,” ujarnya, saat dibincangi koran ini, seraya mengatakan bahwa dirinya harus kehilangan kaki kirinya dalam satu kecelakaan sepeda motor tahun 2009 lalu.

Selama empat tahun pula, Saparudin harus menanggung malu. Bukan karena diejek tetangga, tapi malu karena tidak bisa mencari nafkah. Untuk menghidupi keempat anaknya, sehari-hari Sapar mengandalkan istrinya Aliyah yang bekerja sebagai petani karet.

“Saya sangat malu, tidak bisa membantu istri bekerja. Sebagai lelaki terkadang saya tidak rela melihat istri ke kebun sendirian,” keluhnya.

Pernah suatu kali karena tidak tahan lagi, Sapar nekad ke kebun. Sambil bertudung handuk ia membonceng istrinya bersepeda motor. Sesampai di kebun, ia mencoba membantu istrinya memupuk.

“Dari pagi sampai sore cuma habis Tiga kilo pupuk. Kalau orang normal satu jam saja sudah selesai. Saya beruntung, istri mengerti dengan keadaan ini. Ini bukti kesetiaan perempuan. Apapun yang terjadi dengan suaminya diterimanya,” tuturnya memuji istrinya.

Kini setelah mendapat satu kaki “baru”. Sapar bertekad untuk mengambil alih beban istrinya. “Saya akan belajar bawa motor biar bisa bonceng istri. Saya juga akan kembali mantang (nyadap karet -red),” Sapar mengumbar tekad.

Hal yang sama juga diakui Trisno, warga Desa Harapan Jaya kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI. Seperti halnya Sapar, Trisno juga mendapat bantuan kaki dari LCKI. Bedanya, meski hanya memiliki satu kaki normal, Trisno tidak urung untuk mengendarai motor dan menyadap karet. Ia tetap nekad meski kemampuan kakinya terbatas.

“Banyak yang heran melihat saya yang kaki satu bisa bawa motor bonceng istri sambil bawa getah karet. Saya nekad kak, tidak tahan lihat istri kerja sendirian” jelasnya.

Dengan menggunakan tongkat, Trisno tak urung menyadap karet bahkan mengumpulkan getahnya untuk dijadikan bantalan karet. “Saya sangat mengharapkan kaki palsu ini. Sampai-sampai terbawa mimpi,” katanya.

Dengan memiliki kaki palsu, Trisno berencana akan berdagang keliling dari desa ke desa.

Trisno dan Sapar adalah dua diantara lima penerima kaki palsu dari Kabupaten PALI. Selain mereka ada pula Mawaddah, warga desa Purun Kecamatan Penukal, Riri Irawan, warga Talang Ojan, Kelurahan Talang Ubi Utara, dan Zainal warga Sungai Limpa. Mereka difasilitasi oleh Bupati Ir H Heri Amalindo MM yang bekerja sama dengan LCKI.

Pemberian kaki palsu ini merupakan program rutin LCKI Sumsel pimpinan Erry Gustion Bowie SH MKn. Selain pemberian kaki palsu, LCKI juga berencana memberikan bantuan gerobak bakso, Alat bantu dengar dan kacamata baca. Dan kesemuanya gratis.

“Senang rasanya melihat ada warga terbantu. Bila bantuan ini bisa meningkatkan produktifitas warga, kami senang. Memang inilah tujuan kita,” tutup Bowie yang berprofesi sebagai notaris itu.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris




One thought on “Saparudin : Empat Tahun Bergantung Pada Tongkat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *