“Jangan Ambil Sekolah Kami”

Demo Oleh Siswa SDN 94 Palembang yang Menolak Penyegelan Sekolah Mereka. | Iwan KS

Demo Siswa SDN 94 Palembang yang Menolak Penyegelan Sekolah Mereka. | Iwan KS

*Konflik Kepemilikan Lahan SDN 94 Palembang

PALEMBANG, KS – “Jangan  ambil sekolah kami…….” teriakan itulah, yang dilontarkan puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SD N)  94 Palembang menyambut kedatangan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang, Ahmad Zulinto, Rabu (4/12).

Puluhan bocah berseragam batik, lengkap dengan peralatan sekolahnya dengan penuh semangat terus berteriak, bersorak sambil mengangkat selembar kertas yang bertulisan nada kegusaran, dan kecamanan yang ditujukan ke pengecara dan orang yang dianggap puluhan siswa SDN 94 tersebut, sebagai orang yang merebut sekolah mereka.

“Kami nak (mau) belajar, ngapo (kenapa) sekolah kami nak diambek (mau diambil). Jangan ambek (ambil) sekolah kami,” kata salah seorang siswa SDN 94, yang dibincangi Kabar Sumatera, kemarin.

M Aminuddin, kuasa hukum  Ayucik (66), warga yang mengklaim SDN 94 tersebut berada di lahan miliknya, membantah kalau pihaknya menghentikan proses belajar dan mengajar di sekolah tersebut.

“Kami tidak menghentikan proses belajar dan mengajar, yang kami hentikan adalah pembangunan sekolah ini. Kalau itu masih diteruskan, kami akan melaporkan hal tersebut kembali. Itu artinya, ada satu lagi perbuatan melawan hukum yang dilakukan,” tegasnya.

Ancaman tersebut, ternyata tidak menyurutkan Disdikpora dan warga untuk mempertahankan sekolah tersebut.  Kepala Disdikpora Kota Palembang, Ahmad Zulinto yang mendatangi sekolah bermasalah tersebut, memastikan akan mempertahankan SDN 94.

“ Kita akan pertahankan sekolah ini bersama masyarakat, orang yang menghentikan pembangunan serta proses belajar dan mengajar di sekolah ini,  akan kita laporkan balik. Selama proses hukum berjalan, proses belajar dan mengajar harus tetap dilaksanakan,” tegas Zulianto.

Zulianto mengaku tak habis pikir, kenapa baru sekarang kepemilikan lahan dipersoalkan. “Sekolah ini sudah puluhan tahun berdiri, dulunya dari kayu sekarang mau dipermanenkan. Namun terhenti, karena kepemilikan lahan dipersoalkan. Harusnya masalah ini, bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun orang yang mengaku pemilik lahan, tidak mau malah menempuh jalur hukum.,” sesalnya.

Sementara itu Idris, salah seorang warga disekitar lingkungan sekolah menyebut, tanah yang saat berdiri SDN 94 bukanlah milik Ayucik (66). Tanah tersebut jelasnya, adalah milik Assegaf yang di wakafkan untuk pembangunan sekolah tersebut.  “Sudah lama tanah ini, di wakafkan. Karenanya kita bersama Disdikpora, akan melawan mereka. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, terhadap kepemilikan lahan,” tukasnya.

Sebagai informasi, SDN 94 yang berada di Jalan KH Balqi, Lr Banten IV, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Palembang, Selasa (3/12) disegel oleh kuasa hukum Ayucik (66), warga Jalan A Yani, Lr Fajar I, RT 36/05, Kelurahan 8 Ulu, Palembang.  Ayucik mengaku SDN 94 tersebut, berdiri di tanah miliknya, dan sampai saat ini belum ada pelepasan atau ganti rugi. Sehingga ia menyegel sekolah tersebut.

 

TEKS              : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *