Syahrial Oesman Pimpin NasDem Sumsel

Syahrial Oesman

Syahrial Oesman

PALEMBANG, KS -Mantan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Syahrial Oesman kembali ke panggung politik. Syahrial, dipastikan akan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sumsel.

Kepastian itu disampaikan carateker Ketua DPW Partai NasDem Sumsel yang juga fungsionari DPP Partai NasDem, Irma Chaniago, kemarin. Ia menyebut, Syahrial akan dilantik langsung oleh Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh di Hotel Aryaduta, Palembang.

“Besok (Senin), rencananya ketua umum yang akan langsung melantik. Pelantikan ini dirangkaikan dengan orientasi atau pembekalan kepada calon anggota legislatif (caleg) untuk DPRD kabupaten/kota serta DPRD provinsi,” jelas Irma.

“Kami yakin, pak Syahrial bisa membawa Partai NasDem di Sumsel bisa menjadi partai yang besar dan bisa meraih suara terbanyak dalam Pemilu 2014 mendatang,” kata Irma yang dibincangi di Sekretariat Partai NasDem Sumsel, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang.

Bagaimana dengan Percha, bukankah sebelumnya anggota DPD RI ini sudah sempat mengendalikan NasDem Sumsel ?, Irma menerangkan, Percha memang merupakan salah satu kader terbaik partai.

“Namun karena dia masih sibuk sebagai anggota DPD RI, dan saat ini sedang hamil dan akan melahirkan, maka kita tidak mungkin memberikan beban yang begitu berat kepadanya. Sementara pemilu tinggal beberapa bulan lagi, dan tugas ketua partai sangat banyak, makanya kita sepakat untuk meminta pak Syahrial untuk menjadi Ketua Nasdem Sumsel,” Jelasnya.

Mengenai rekam jejak Syahrial yang kurang baik, Irma mengatakan, setiap orang mempunyai kesalahan. Tetapi itu tegasnya, bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Apalagi kesalahan itu dilakukan, untuk kepentingan masyarakat.  ”Jadi tidak masalah dan tidak akan mempengaruhi dukungan masyarakat, kepada Syahrial.” ucapnya.

Sementara itu pengamat politik dari Riset Pol-Tracking Institute, Arya Budi, mengatakan, dalam rekrutmen kader, setiap partai punya berbagai pertimbangan seperti basis massa, kekuatan logistik materi, atau kapasitas politik para calon kader.

Namun seharusnya partai, dalam melakukan rekrutmen kader paling tidak berdasarkan pada dua hal, yaitu kualitas dan integritas. “Bila yang direkrut itu mempunyai rekam jejak buruk, sebaiknya tidak masuk dalam kualifikasi,” kata dia.

Bahkan lanjutnya, partai sebenarnya punya tanggung jawab untuk mencetak kader. Sehingga partai mempunyai mekanisme kaderisasi untuk setiap anggota partai. “Jika tidak, rekrutmen kader tanpa proses kaderisasi akan menjadi bumerang bagi partai. Karena orang yang tiba-tiba ditempatkan, dalam jabatan struktural strategis bisa punya potensi merusak konsolidasi internal partai,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Direktur Political Communication Institute, Heri Budianto. Menurutnya, jika benar Nasdem itu bakal mengangkat Syahrial Oesman, ini menunjukan rekrutmen kader partai yang buruk.

Ini sebutnya juga menggambarkan, parpol tidak mau mengkader orang dari nol atau dari bawah tapi hanya menerima calon jadi dan sudah punya nama di publik, bekas pejabat, dan punya uang.  Menurut Heri, itu adalah potret buruk pangkaderan partai. Dan orientasinya hanya demi kekuasaan saja. “Inilah kelemahan paling mendasar hampir semua partai kita, ” kata dia.

Partai kata Heri, tak mau susah payah mencetak kader. Parahnya lagi, tak mau mempertimbangkan jejak rekam kader. Padahal, rekam jejak seorang kader sangat diperlukan. Dan mestinya integritas menjadi hal utama. “Sulit sekali jika elite parpol memiliki rekam jejak yang buruk, sebab ini akan mempengaruhi kepemimpinannya dimasa yang akan datang,”  tukasnya.

Teks     : Dicky Wahyudi
Editor  : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *