November, UMP Sumsel 2014 Diputuskan

duit

PALEMBANG, KS-Setiap tahun, pemerintah akan merevisi upah minimum provinsi (UMP). Untuk UMP 2014, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Alex Noerdin memastikan, akan ditetapkan pada awal November mendatang.

“Rencananya pada 1 November nanti, UMP Sumsel 2014 akan ditandatangani kesepakatannya oleh dewan pengupahan yang terdiri dari unsur pemerintah, perwakilan buruh dan pengusaha,” kata Alex yang dibincangi serah terima jabatan (sertijab) Kepala Bank Indonesia (BI) Wilayah VII (Sumsel, Babel, Bengkulu,  Jambi dan Lampung) di aula serbaguna BI Palembang, Senin (28/10).

Berapa besar kenaikannya, Alex belum bisa memastikan. Sebab UMP tersebut, didasarkan atas kesepakatan dewan pengupahan. Bagaimana dengan pelaksanaan UMP Sumsel 2013 ?, Alex menyebut, sudah berjalan.

Sebelumnya seperti diberitakan Kabar Sumatera, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Sumatera Selatan (Sumsel), mengusulkan UMP Sumsel 2014 naik antara 25 persen sampai 30 persen dari UMP 2013.

“Kita minta Pemrov Sumsel, menaikkan UMP Sumsel 2014 antara 25 persen sampai 30 persen atau antara Rp2 juta sampai Rp2,5 juta,” kata Ketua SPSI Sumsel, MP Nasution ketika dibincangi, kemarin.

Kenaikan tersebut menurutnya, cukup realistis. Nasuton menyebut, mereka mempunyai pertimbangan dengan angka tersebut, yakni kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu urainya, telah mengakibatkan kenaikan biaya hidup di Sumsel.. Sehingga wajar sambungnya, jika UMP Sumsel juga ikut naik antara Rp2 juta sampai Rp2,5 juta.

“Angka ini, sebenarnya belum memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) yang menjadi patokan kenaikan UMP. Namun angka itu, sudah cukup mendekati KHL. Kita akan perjuangkan ini, baik melalui media massa maupun melalui aksi massa,” bebernya.

Pengaruhi Iklim Investasi

Sementara itu dibincangi terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus DW Martowardojo mengatakan, kenaikan upah yang signifikan bisa mempengaruhi iklim investasi di Indonesia. Sebab upah tenaga kerja, menjadi salah faktor pemikat untuk penanaman modal.  “Jika upah itu terlalu melonjak dan tidak menggunakan pola yang bertahap, dipastikan akan memperngaruhi iklim investasi dan ekspansi dunia usaha di Indonesia,” ujar Agus.

Ia meminta semua pihak, tidak mengedepankan emosi semata. Ia juga memahami alasan buruh menuntut kenaikan upah, mengingat terjadi kenaikan harga pangan menyusul setelah terjadinya kenaikan komponen bahan bersubsidi pada tahun ini, yaitu bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL).

“Pada satu sisi kenaikkan upah, akan menaikkan daya beli buruh. Tetapi di sisi lain, jika kenaikan upah buruh terlalu signifikan, akan berimbas pada iklim investasi. Sebab itu, berbagai pihak harus saling berkoordinasi seperti dewan pengupahan, pemerintah, dan para pekerja itu sendiri untuk menentukan langkah yang terbaik,” tukasnya.

Teks     : Imam Mahfudz Ali

Editor  : Dicky Wahyudi

Rate this article!
author

Author: 

6 Responses

  1. author

    Febryan9 months ago

    mudah mudahan

    Reply
  2. author

    Ahmad Fawaid9 months ago

    oke.. pak Imam Mahfudz Ali. semoga menjadi 2,5 jt,,,

    Reply
  3. author

    Anjur Gabriel Manik9 months ago

    sudah selayak nya di kisaran 2 jt

    Reply
  4. author

    Eko Budiono9 months ago

    wajar bae harus naek segitu,,bahan pokok dan bbm lah naek galo.gaji hrs ngimbangi jugo

    Reply
  5. author

    Muhammad Rohman Deni Martasari9 months ago

    2,5 oke thu,,,
    Sesuai dg kondisi saat ini,,

    Reply
  6. author

    Febian Alvadin Cahyo9 months ago

    Aq setujah law 2,5 biak sejaterah buruh palembng.

    Reply

Leave a Reply