Imbas Kasus Akil Menerpa Palembang

kpk

DARI hari ke hari kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar terus bergulir. Perkembangan terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan seorang makelar yang berperan seperti Ahmad Fathanah dalam kasus suap-menyuap berkaitan dengan penanganan sengketa pemilihan kepala daerah (pilkada) di MK.

Hal itu sebagai hasil pengembangan penyidik KPK yang terus menggali, mendalami, dan mengembangkan kasus dugaan suap Ketua MK nonaktif Akil Mochtar. Terkait dengan makelar seperti Ahmad Fathanah itu pula, publik Palembang sempat heboh ketika  penyidik KPK menggeledah kantor dan rumah Wali Kota Palembang, Romi Herton, di Jalan Ki Ranggo Wirasantika, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, Sumsel, Selasa lalu.

Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, konstruksi yang dibangun dalam peranan seorang makelar seperti Ahmad Fathanah adalah antara penerima dan pemberi. Akil Mochtar sebagai  penerima dan ada tokoh semacam Fathanah. Dia sebagai penerima juga.

Dalam konteks itu Bambang enggan menyebutkan orang yang dimaksud karena bisa mengganggu proses penyidikan. Namun, informasi yang berkembang menyebutkan seseorang bernama Muhtar Effendi berperan sebagai perantara Akil. Muhtar adalah orang yang tahu soal penerimaan suap ke Akil. Bahkan dia disebut pernah menerima uang dari beberapa pihak yang beperkara di MK untuk diserahkan kepada Akil. Meski  saat dikonfirmasi, Muhtar membantah. Padahal informasi mengenai peran Muhtar didukung Wakil Ketua MK Hamdan Zoelva. Dia mengaku pernah mendapat laporan mengenai nama Muhtar terkait sepak terjangnya dalam pengurusan sengketa pilkada. Menurut Hamdan, Muhtar menghubungi pihak-pihak yang berperkara di MK.  MK sendiri, menurutnya, melakukan penyelidikan atas laporan itu sesuai dengan rapat permusyawaratan hakim (RPH). Namun penyelidikan itu belum membuahkan hasil.

Muhtar disebut-sebut sebagai oknum operator suap Akil Mochtar di bagian Sumatera. Dia disebut pernah menerima uang Rp2 miliar dari Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian, atas pengurusan sengketa pilkada setempat. Sementara itu, dalam penggeledahan di rumah Romi selama 8 jam, tim KPK menyita tiga buah telepon genggam, berkas terkait pilkada Palembang, dan bukti transfer uang senilai Rp500 juta dari rekening Masito, istri Romi. Romi membantah menyuap Akil Mochtar untuk memenangkan gugatannya di MK. Dia mengaku  sebagai  korban sistem dan kalah. Saya semestinya menang dalam penghitungan suara di KPU. Tetapi, setelah saya gugat di MK, ternyata saya menang. Sarimuda-Nelly merupakan calon yang dimenangkan KPU Kota Palembang pada pilkada Kota Palembang yang digelar 7 April 2013, unggul dengan perolehan 316.923 suara.  Sementara pasangan nomor urut 2 Romi Herton-Harnojoyo memperoleh 316.915 suara. Sarimuda unggul tipis dengan selisih 8 suara dari Romi. Pasangan Herton-Harnojoyo kemudian mengajukan gugatan ke MK pada 16 April 2013. Isi gugatan itu meminta MK membatalkan hasil rekapitulasi suara di KPU Palembang. Pada 20 Mei 2013 MK mengumumkan pasangan nomor 2 menang dengan selisih 23 suara dari Sarimuda.

Usai penggeledahan ini berbagai rumor terjadi. Sebab hasil penggeledahan itu tentu akan memberikan berbagai petunjuk yang bisa saja mengarah apakah Akil terlibat main kotor di sini atau tidak. Kita belum bias menebak bagaimana ending kasus ini. Kita tunggu saja perkembangannya. (Sarono P Sasmito)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *