Darah Muda Memajukan Bangsa

foto-gagasan---RIBUT-LUPIYANTO

RIBUT LUPIYANTO

Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration)-Yogyakarta

Bangsa ini baru saja memperingati Hari Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober. Setiap peringatan selalu digaungkan refleksi eksistensi peran generasi muda dalam pembangunan bangsa. Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini selain berlangsung dalam suasana tahun politik juga semakin dekatnya kehadiran fenomena kependudukan berupa Bonus Demografi.

Pemuda mesti tampil dalam garda terdepan dinamika politik jelang Pemilu 2014. Partisipasi politik kaum muda selalu menjadi warna menentukan dalam iklim demokrasi. Indonesia pada 2020-2030 diperkirakan mendapat bonus demografi, yang berarti selama kurun waktu itu jumlah penduduk usia produktif (15—60 tahun) lebih tinggi daripada usia nonproduktif. Fakta itu memungkinkan masyarakat mencapai kemakmuran tinggi. Kemakmuran tentu akan tercapai jika produktifitas usia produktif tersebut tinggi. Disini kembali pemuda memegang peran sentral dalam upaya menyongsong dan mewujudkannya.

Fungsi Pemuda

Pemuda semestinya jauh dari sikap eksklusif dan apatis terhadap dinamika bangsa, apalagi berkhianat terhadap amanah rakyat. kondisi bangsa masih dilanda sakit akibat terpaan krisis multidimensional yang tidak kunjung reda. Kondisi ini membutuhkan kearifan setiap komponen anak negeri ini untuk berperan serta mengantarkan Indonesia naik ke podium terhormat dalam kompetisi global. Obsesi tersebut cukup realistis apabila semangat optimisme mampu ditumbuhkan.

Prinsip filsafat Hegelian menyebutkan bahwa tidak akan besar suatu bangsa tanpa adanya konflik atau krisis. Sudah semestinya pemuda tidak ketinggalan langkah untuk turun gelanggang bersama rakyat membangun peradaban bangsa melalui kemampuan kritis dan akademisnya. ”Jangan tanyakan apa yang kita dapat dari negara namun tanyakan apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini” inilah falsafah kebangsaan yang harus ditancapkan kuat dalam setiap diri pemuda. Idealisme ini akan mencapai optimal jika setiap komponen paham akan fungsi, peran, dan posisinya masing-masing. Setidaknya ada tiga fungsi yang harus diketahui dan dipahami oleh pemuda untuk diaktualisasikan dalam kehidupannya.

Pertama, Pemuda  merupakan cadangan keras (iron stock) yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Pemuda sangat diharapkan rakyat untuk mampu mengimplementasikan idealisme dan kemampuannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Kerasnya sang cadangan apabila direfleksikan dengan perjalanan bangsa banyak yang menujukkan gejala mulai mencair dan menguap. Gejala tersebut muncul dalam sikap dan perilaku pemuda menjaga konsistensi pelaksanaaan fungsinya. Idealisme pemuda sering luntur ketika mulai melepas karakternya, karena tidak kuat menghadapi godaan.

Lebih memprihatinkan lagi, dalam kondisi kekinian pemuda  Indonesia mulai ada indikasi melemah  kepekaan dan kepedulian sosial terhadap dinamika lingkungannya. Padahal inilah yang menyebabkan keberhasilan angkatan 1998 mendobrak rezim orde baru dengan mengusung agenda reformasi, Pemuda  tidak mampu mengawalnya, sehingga keadaan menjadi semakin tak menentu. Sebuah pembelajaran sebenarnya telah diberikan melalui pengalaman gagalnya angkatan 1966 mempertahankan idealismenya, hingga malah menumbuhkan sebuah rezim yang kokoh bercokol selama 32 tahun.

Kondisi di atas sangat kontradiktif bila dikorelasikan dengan fungsi kedua pemuda  sebagai agent of change (agen perubahan). Idealnya dengan fungsi ini pemuda tidak akan rela melihat setiap ketidakberesan dan penyelewengan. Pemuda akan tampil memperjuangkan perubahan menuju perbaikan.

Idealisme yang tinggi telah menempatkan pemuda memiliki fungsi ketiga sebagai sang penyeru kebenaran. Seruan pemuda idealis akan murni tanpa ada keberpihakan terhadap suatu kepentingan kecuali kepentingan rakyat dan bangsa.

Kontribusi Pemuda

Pemahaman yang tepat terhadap fungsinya, akan mudah dibuktikan dengan melihat peran nyata apa yang mampu dimainkan pemuda  dalam dinamika bangsa. Melihat fungsi strategis yang dimiliki, maka semakin mempertegas tuntutan akan eksistensi pemuda  dalam menunjukkan perannya di garda depan perjalanan bangsa. Sekali lagi intelektualitas dan idealisme merupakan bekal utama untuk beraktualitas yang telah ditunggu-tunggu karya nyatanya. Idealisme menurut Tan Malaka merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda

Lebih dari tiga dasawarsa bangsa ini berjalan dalam kungkungan konsep ideologi yang selalu mengutamakan pertumbuhan dan modernisasi tanpa memeperhatikan aspek pemerataan. Dobrakan rakyat melalui mahasiswa dan pemuda berhasil membuka pintu bagi lahirnya era reformasi. Kesuksesan tersebut masih merupakan awalan perjuangan panjang. Pemuda justru terlena dan terperdaya sehingga menjadi kurang kuat dalam mengawal agenda reformasi.

Sudah saatnya pemuda  kembali tampil pada jalannya,  melakukan kontrol dan berkontribusi bagi perjalanan bangsa ini. Relakah kita bangsa yang konon mempunyai nilai budaya tertinggi di jagad ini terus menerus terbaring dalam kondisi sakit dan hanya menjadi pecundang dalam tataran kehidupan global?. Apapun peran yang diambil, posisi yang strategis harus ditempatkan pemuda bila ingin memberikan penghargaan bagi bangsa. Di pundak pemudalah beban dipikulkan untuk dapat melihat kecerahan di negeri ini. Tuhan yang Mahakuasa tidak akan mengubah keadaan jika tidak ada usaha dari yang bersangkutan untuk mengubahnya. Hari Sumpah Pemuda tahun ini dapat menjadi momentum kebangkitan pemuda dalam mengoptimalkan darah mudanya yang segar dan idealis demi memajukan bangsa.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *