Diwajibkan Pakai Sarung Tangan dan Masker

foto-jemaah-haji-copy

Jemaah haji tiba di bendara. / Foto : Bagus Kurniawan KS

PALEMBANG, KS – Jemaah haji asal Sumatera Selatan (Sumsel), dari kelompok terbang (kloter) pertama, Selasa (29/10), sekitar pukul 07.34 WIB kembali ke Palembang. Namun pesawat yang mengangkut 360 jamaah tersebut, terlambat mendarat awalnya di jadwalkan sudah mendarat di Bandara SMB II, pukul 06.55 WIB.

Walau pun begitu, ribuan keluarga jemaah haji dengan sabar tetap menunggu. Begitu pesawat Garuda Indonesia, yang membawa keluarga mereka tiba dari tanah suci, Mekkah, mereka pun langsung berdiri untuk menyambut kedatangan jemaah haji tersebut.

Tak hanya keluarga, panitia haji Sumsel juga sudah mempersiapkan penyambutan. Namun dibalik penyambutan tersebut, terselip rasa kecewa dari ratusan jemaah haji ini. Pasalnya, mereka tidak boleh bersentuhan langsung dengan keluarga yang sudah lama ditinggalkan.

Ratusan jemaah haji ini, di wajibkan menggunakan masker dan sarung tangan. “Ini berlebihan, kami diberlakuan seperti orang yang membawa virus penyakit. Penyebaran virus corona itu, terlalu berlebihan,” keluh Ahmad Muhlis, salah seorang jemaah haji Sumsel yang dibincangi, kemarin.

Pria yang juga Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Ka’bah, Palembang ini mengaku dibuat tersinggung dengan perlakukan panitia ibadah haji tersebut. Ia mengatakan, tidak ada satu pun jemaah haji Sumsel, yang terinfeksi virus tersebut.

“Kalau jemaah kita yang sakit, memang ada. Namun bukan disebabkan virus itu, jemaah kita hanya terserang penyakit ringan seperti batuk, pilek dan gangguan pernafasan. Sementara jemaah asal Sumsel yang wafat, setelah diperiksa tim dokter di Mekkah dikarenakan penyakit bawaan bukan karena virus corona,” ungkapnya.

Sebagai informasi, virus Corona yang menjadi buah bibir ini, adalah MERS–CoV,singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus. MERS-CoV adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus corona, yang menyerang saluran pernapasan mulai ringan sampai yang berat. Gejalanya adalah demam, batuk dan sesak nafas hingga yang bersifat akut.

Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Coronavirus (Novel Corona Virus). Virus ini pertama kali dilaporkan pada bulan September 2012 di Arab Saudi. Ada sekitar 24 kasus yang dilaporkan, dari orang yang pergi ke Arab Saudi kemudian pulang ke negaranya dan menularkannya pada beberapa penduduk setempat. Dari sejumlah kasus itu, 16 orang dilaporkan meninggal dunia.

Sementara itu, Hendra Zainuddin, salah satu petugas haji yang ikut mendampingi jemaah haji selama menunaikan rukun Islam ke lima tersebut juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengaku, kecewa diperlakukan seperti pulang membawa penyakit.

Sebab akibat kebijakan itu sebut Hendra, membuat banyak keluarga jemaah haji menjadi cemas akan kesehatan keluarganya. “Padahal kami yakin, tidak ada satu pun jemaah kita yang terkena virus tersebut. Tanah Arab kan merupakan tanah yang Amin (aman), mana mungkin Allah SWT mau memberikan penyakit kepada mereka yang ingin beribadah kepada-Nya,” ungkap Hendra.

Karenanya Hendra meminta petugas bertanggungjawab, dengan cara menjelaskan secara detail kepada para jamaah dan keluarga terkait kebijakan panitia yang harus mengenakan sarung dan masker.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Sumsel, H Nadjib Haitami yang dibincangi terpisah, meminta maaf jika kebijakan panitia tersebut membuat jemaah haji Sumsel menjadi tersinggung.

Namun kata Nadjib, mereka hanya menjalankan perintas dan tugas sesuai dengan hasil rapat mengenai penyambutan jemaah haji.  “Kita maklumi mereka merasa tersinggung dan kecewa, sebab rasa rindu antara jamaah dan keluarga itu sangat bisa dirasakan. Akan tetapi, cara yang dilakukan ini, bentuk kewaspadaan dan antisipasi dari segi kesehatan,” ujarnya.

“Kita masih tetap menunggu petunjuk kemenkes selanjutnya, mengenai pemakaian alat pelindung selama jamaah yang akan pulang supaya terhindar dari virus yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Sedangkan Kasubag TU Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), dr Amelia menerangkan kebijakan memakai alat pelindung untuk jemaah haji tersebut merupakan arahan dari Kemenkes langsung, setelah mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap virus corona yang baru timbul pada tahun ini ketika pelaksanaan haji berlangsung.

“Ada edaran dari Dirjen P2PL (Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan) tentang kewaspadaan dini,” bebernya.

Ia juga meminta maaf atas kejadian ini karena, memang dirasa kurangnya sosialisasi yang sampai menyeluruh kepada semua jamaah di sana, terkhusus jamaah asal Sumsel.  “Sosialasi sudah dilakukan, namun kemungkinan tidak sampai kepada seluruh jamaah. Dan untuk jamaah yang meninggal, itu negatif dari virus sebab memang sudah memnderita penyakit bawaan yang sudah diderita sebelumnya yakni penyakit gangguan pernafasan,”tukasnya.

Teks     : Dicky Wahyudi
Editor  : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *