Dari Pasar Lingkis Menjadi Cinde

pasar-cinde-dulu

Pasar Cinde Jaman Dulu. Foto : IST

PALEMBANG, KS – Nama Pasar Cinde, bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Palembang bahkan Sumsel.  Pasar ini, menjadi salah satu pasar terbesar di Palembang setelah Pasar 16 Ilir.  Pasar yang dibangun pertama kali tahun 1958 tersebut, menjadi salah satu trandmark bagi masyarakat Palembang.

Karena bukan hanya lokasinya yang strategis terletak di Jalan Jend Sudirman tetapi juga arsitektur bangunannya yang berbentuk cendewan.  Di Indonesia, hanya ada dua pasar yang memiliki arsitektur cendawan yakni Pasar Cinde dan Pasar Johar di Semarang.

Pasar ini awalnya  disebut sebagai Pasar Lingkis. Penyebutan tersebut karena kata satu pemerhati sejarah di Kota Palembang Kemas Aripanji,  dulunya banyak pedagang yang berasal dari daerah lingkis, Jejawi, OKI yang juga tinggal di tempat tersebut.

“Dulunya pusat perdagangan ada di Pasar 16 Ilir, namun karena jumlah penduduk yang bertambah muncul pasar dadakan yang kemudian menjadi Pasar   Cinde,” jelas Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumsel ini, beberapa waktu lalu.

Tahun 1985, pasar kaget tersebut dibangun secara permanent dengan arsiteknya Herman Thomas Kasrten. Herman membangun pasar tersebut, dengan konsep cendawan sebagai pondasi atapnya.  “Nama Cinde diambil dari makam Sultan Abdurahman, pendiri Kesultanan Palembang. Makam itu, sering disebut Candi Welan atau sering disebut dengan nama Cinde,” jelasnya.

Sementara itu budayawan Palembang, Febri Al Lintani menyebut Pasar Cinde awalnya sebuah bangunan yang didirikan pemerintah pasca kemerdekaan, untuk menampung aktivitas jual beli masyarakat yang tak lagi tertampung di Pasar 16 Ilir.

Pasar Cinde kata  Febri,  layak masuk sebagai bangunan sejarah dan kebudayaan. Karena di pasar tersebut beragam jenis kebudayaan menyatu. “Saat dulu, Pasar Cinde dianggap sebagai pasar rakyat sedangkan Pasar 16 Ilir, dianggap pasar modern. Sebab harga barang yang dijual di Pasar Cinde lebih murah dibanding Pasar 16 Ilir,” jelasnya.

Sementara itu berdasarkan data Ikatan Arsitek Indonesia (IAI),  konstruksi cendawan yang dipakai Pasar Cinde hanya ada di Indonesia yakni di Pasar Johar Semarang dan Pasar Cinde.

Secara konstruksi,  salah seorang arsitek yang pernah ikut membangun Pasar Cinde (Alm) HM Idris Ibrahim,  kekuatan konstruksi pasar itu pernah di tes beban dengan menaikkan tank baja ke atas atap pasar tersebut.  Walaupun begitu, Pasar Cinde tidak ambruk.

Namun kini, pasar yang bernilai sejarah itu terancam kehilangan sejarahnya. Pasar Cinde terancam tidak lagi cindo, karena rencana Pemkot Palembang yang bakal merenovasinya menjadi pasar modern.  Kondisinya pun kini, tak lagi cindo. Kondisi sembrawut, kusam dan kotor kian menambah pudarnya Pasar Cinde.

Teks     : Dicky Wahyudi

Editor  : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *