Oknum Guru Lakukan Tindak Asusila Siswa SMAN 14 Ancam Mogok Belajar

Amuki Kepala Sekolah - Ratusan siswa kelas 11 dan 12 SMAN 14 Palembang melakukan aksi corat-coret di kertas dan ditempelkan di depan ruang Kepala Sekolahnya di Jalan Pangeran Ayin Kenten Laut,banyuasin,Senin (28/10), para siswa ini “mengamuk” menuntut kepala sekolahnya dan salah seorang guru untuk dipecat, karena diduga kedua guru tersebut telah melakukan penyelewengan dana dan melakukan tindakkan asusila terhadap siswi kelas 12.Foto : Iwan Cheristian

Ratusan siswa kelas 11 dan 12 SMAN 14 Palembang melakukan aksi corat-coret di kertas dan ditempelkan di depan ruang Kepala Sekolahnya di Jalan Pangeran Ayin Kenten Laut,banyuasin,Senin (28/10), para siswa ini “mengamuk” menuntut kepala sekolahnya dan salah seorang guru untuk dipecat, karena diduga kedua guru tersebut telah melakukan penyelewengan dana dan melakukan tindakkan asusila terhadap siswi kelas 12.Foto : Iwan Cheristian

PALEMBANG | KS-Dunia pendidikan kembali tercoreng, setelah sebelumnya marak pemberitaan video asusila di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta, kini dunia pendidikan kembali dihebohkan oleh ulah sala seorang oknum guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) 14 Palembang yang diduga, melakukan tindak asusisala terhadap dua siswinya.

Hal ini terkuak setelah para siswa kelas 10, 11, dan 12 melakukan aksi demo yang diwarnai dengan aksi bakar ban dan penurunan bendera di halaman SMAN 14 Kenten Laut. Ratusan siswa ini, menuntut agar kepala sekolah SMA 14 dan oknum guru yang diduga melakukan tindak asusila tersebut di berhentikan.

Koordinator aksi, Nabila Ramadhani mengatakan, semua siswa-siswi yang ada di SMA Negeri 14 memintah agar guru yang bersangkutan untuk di berhentikan, karena guru dianggap telah menodai dunia pendidikan.

“Kami menuntut agar guru yang melecehkan tersebut diturunkan karena telah melakukan perbuatan yang tercela,” ujarnya saat dibincangi HU Kabar Sumatera, Senin (28/10).

Bukan hanya itu, siswa juga menuntut agar kepala sekolah SMAN 14, Agustina di copot dari jabatannya karena dinilai telah membela guru yang melakukan pelecehan tersebut. Para siswa juga menilai kepala sekolah SMAN14, banyak melakukan pelanggaran diantaranya pernah mengharuskan setiap murid membeli baju seragam dengan biaya Rp825.000 per-orang dan pada saat itu orang tua murid yang merasa keberatan melakukan aksi demo.

Selanjutnya, pada Agustus lalu, kepala sekolah juga selisih paham dengan beberapa guru di SMAN 14 tersebut. Sedangkan pada saat penerimaan siswa baru (PSB) kepala sekolah juga meminta sogokan agar bisa diterima di SMAN 14 dengan biaya Rp 2-3 juta.

“Kita tidak ingin masuk kelas apabila kepsek tidak diganti, karena kepsek sering melakukan pungli dan membela kesalahan guru yang sudah melanggar aturan. Bahkan perbuatan yang tidak memberikan contoh baik kepada murid,” ungkap Nabila.

Ditempat yang sama, Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, Herlina Baijuri SPd MM membenarkan prihal pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru di SMA Negeri 14 tersebut, “Info yang didapat memang benar guru tersebut melakukan itu, tapi mereka melakukannya karena suka sama suka dan tidak ada paksaan,”paparnya.

Sebelumnya, Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) IV Renata, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel, AKBP Yan Budijaya menyebut, pihaknya sudah menerima laporan tindakan asusila yang dilakukan oknum guru di salah satu SMAN di Palembang tersebut.

“Sudah ada dua laporan yang kita terima, namun oknum guru itu belum kami amankan. Karena kita masih melengkapi alat bukti dan kemungkinan ada laporan dari korban lainnya,” jelas Yan.

Dari laporan korban jelasnya, modus yang dilakukan oknum guru tersebut dengan cara mengimingi-imingi korban untuk memberikan nilai tinggi pada mata pelajaran yang dipegang oleh oknum guru tersebut.

Korban dijanjikan, akan diberikan bocoran soal paa saat mid semester. “Korban dibawa ke salah satu hotel di kawasan Palembang Squere (PS). Korban juga, diberi uang Rp1 juta. Secepatnya, kita akan meminta keterangan dari saksi baik kepala sekolah, guru, dan teman korban. Kita juga masih menunggu hasil visum dari rumah sakit,” tukasnya.

TEKS : AMINUDDIN

EDITOR : ROMI MARADONA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *