Disiplin Rendah, Sumpah Pemuda Diperingati Sambil Nongkrong

Suasana Peringatan Sumpah Pemuda di PALI banyak yang nongkrong

Suasana Peringatan Sumpah Pemuda di PALI banyak yang nongkrong

PALI | KS -Tahun ini Peringatan Hari Sumpah Pemuda kembali diperingati di seluruh Indonesia. Demikian pula di Kabupaten PALI. Meskipun pasukan kibar bendera (Paskibra) sedang melakukan studi tour ke Jakarta, namun upacara bendera peringatan Hari Sumpah Pemuda tetap dilaksanakan di Lapangan Gelora 10 November Komperta Pendopo, Senin (28/10).

Maksud hati panitia membuat acara khidmat dan meriah, namun yang terjadi justru jauh dari perkiraan. Saat upacara berlangsung para peserta upacara bukannya serius mengikuti satu persatu mata acara. Yang terjadi justru para peserta duduk sambil bercengkerama seolah mereka sedang di pasar.

Pantauan KabarSumatera (KS), ratusan siswa duduk nongkrong dibarisan belakang. Bahkan bila dilihat dari panggung kehormatan, tampak jelas para siswa tersebut duduk dan keluar dari barisan. Parahnya, bukan hanya para siswa yang bertindak tidak patut. Guru yang ikut mendampingi pun justru ikut duduk. Jangankan menegur, guru-guru itu malah memberi contoh yang tidak baik.

Saat Plt.Sekretaris Daerah Kabupaten PALI, Drs Amiruddin Tjikmat selaku Pembina upacara menyampaikan pidato, gerombolan siswa mulai meninggalkan lapangan. Dan para guru pun membiarkan tindakan mereka.

Saat KS melintas dan memotret kelakuan para siswa tersebut, mereka justru asyik bergaya. “Foto kami, Om,” ujar mereka sambil mengambil gaya tanpa beban.

KS mencoba menghampiri tiga orang oknum guru yang mengenakan seragam PGRI yang asyik berbincang sambil nongkrong dan menanyakan kenapa saat pembina upacara sedang pidato mereka duduk. “Sekarang kami berdiri pak,” ujar salah satu guru berjenggot dan mengenakan topi hitam.

Sementara salah satu guru wanita dengan santai duduk diatas motor. “Saya hamil, Pak, kalau lama berdiri bisa keguguran. Bapak mau tanggung jawab?” alas ibu guru yang perutnya sama sekali tidak menampakkan kehamilan.

Salah satu guru asal SD YKPP yang memperhatikan KS melakukan wawancara sempat membisikkan “Yang jelas itu (duduk saat upacara) bukan perbuatan yang patut ditiru,” ujarnya tersenyum.

Buka itu saja, saat yang lainnya kepanasan segan belasan siswa dengan santainya duduk dibawah pohon. Pemandangan ini sangat jelas bila disaksikan dari panggung kehormatan. Mereka tanpa rasa takut atau sungkan. Melihat atribut yang mereka kenakan, terlihat mereka berasal dari SMAN 1 Talang Ubi, SMAN 2 Unggulan, MA YPII, SMK Penukal, SMPN 4 Penukal, SMA PGRI.

Para siswa itu sangat santai duduk dibawah pohon yang rindang. Tak ubahnya menyaksikan pertandingan sepak bola.

 

Udin, Kepala Sekolah SDN Talang Akar yang dihubungi KS menyesalkan tindakan yang dilakukan para siswa tersebut. “Yaa tidak patut, mas. Tapi ini kemungkinan karena kapasitas lapangan, cuaca dan waktu yang molor jadi penyebabnya. Waktu persiapan juga kalau saya lihat menjadi sebab juga. Mungkin tahun depan akan lebih baik lagi,” ujar Udin.

Irwan, ST salah satu tokoh pemuda Kabupaten PALI yang dihubungi pun menyesalkan ketidak-disiplinan siswa tersebut. Menurut Irwan, pihak Dinas Pendidikan harus membuat suatu gebrakan agar kedisiplinan siswa dapat meningkat. “Ini momen sumpah pemuda. Seharusnya ada keteladanan yang bisa diambil. Nah kedisiplinan itulah yang  harus diteladani,” terang Irwan.

Drs. Muhamad Amin, Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) yang dihubungi dengan nada tinggi menyatakan akan mengumpulkan para kepala sekolah. “Seluruh kepala sekolah akan kita briefing. Ini bukti rendahnya kedisiplinan para siswa,” tegas Amin.

Amin menjanjikan akan memulai peningkatan kedisiplinan siswa dengan cara mendisiplinkan para kepala sekolah dan guru. “kepala sekolah dan gurunya dulu disiplin baru bisa mendisiplinkan para siswa,” ujar Amin.

Menurut Amin, apa yang dilakukan para siswa saat upacara peringatan hari sumpah pemuda itu merupakan bukti rendahnya disiplin siswa disekolah. “Kalau sekolah mereka disiplin, kejadian memalukan itu tidak akan terjadi. Saya jamin,” ujarnya.

Sementara itu, H Sahlan, tokoh masyarakat Kabupaten PALI , justru memaklumi kejadian yang dianggap Kadisdikpora sebagai tindakan memalukan itu. “Kita baru seumur jagung, nak. Masih baru. Saya masih optimis, kejadian ini akan jadi pelajaran dan kedepan akan lebih baik lagi,” ujarnya bijak.

TEKS / FOTO : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *