Sidak SMAN 1 Tanah Abang, Bupati Geram

Bupati PALI Geram saat Sidak ke SMAN 1 Tanah Abang

Bupati PALI Geram saat Sidak ke SMAN 1 Tanah Abang

PALI | KS-Sejatinya Hari  Sabtu (26/10) Penjabat Bupati Penukal Abab lematang Ilir (PALI), Ir H Heri Amalindo, MM hanya membuka Lomba Teknik Baris Berbaris (LTBB) tingkat SLTA di SMAN 1 Tanah Abang. Namun seusai acara seremonial tersebut, bukannya langsung pulang, tetapi mantan Kepala Dinas PU Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) itu justru “nyelonong” masuk ruangan guru.

Beberapa orang guru yang ada dalam ruangan itu, sontak kaget melihat orang nomor satu di Kabupaten PALI itu masuk dan langsung duduk di kursi salah satu guru. Heri tampak kaget melihat tumpukan buku-buku memenuhi meja guru yang letaknya saling berhimpitan yang membuat ruangan serasa sesak. “Pak kepala sekolah, memangnya tidak ada lemari atau ruangan yang lebih lega. Kasihan ibu-ibu guru ini. Seharusnya ada lemari agar ruangan lebih nyaman,” tanya Heri kepada Ahmad Jon Areli S.Pd, sang Kepala Sekolah.

Belum sempat Jon menjawab, Heri langsung memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Kadisdikparpora), Drs M Amin M.Si untuk memperhatikan suasana ruangan guru diupayakan lebih nyaman. “Dianggarkan bantuan lemari atau bagaimana, ruangan guru harus lebih lega. Mana komputernya? Ruang guru kok tidak ada komputer, bagaimana mau pinter?” lanjut Heri. “Para guru menggunakan Laptop, Pak,” jawab Jon Areli.

Keluar dari ruangan guru, Heri melanjutkan sidaknya dengan memasuki ruangan perpustakaan. Di ruangan ini, Heri dibuat kaget dengan kondisi perpustakaan. Barisan rak-rak tempat meletakkan koleksi buku ternyata banyak yang nyaris kosong. Hanya ada beberapa buku saja yang dipajang. Pertanyaan tentang komputer pun kembali dilontarkan Heri. “Komputernya mana? Perpustakaan itu minimal harus punya sepuluh komputer. Pak Amin,  tahun 2014 sudah direncanakan bantuan komputer untuk sekolah?” katanya memerintah Kadisdikparpora.

Amin, yang berada disebelahnya menyatakan 2014 sudah menganggarkan bantuan komputer untuk setiap sekolah menengah termasuk fasilitas internet. “Sudah dianggarkan semua, Pak. Bila anggaran mencukupi, insya Allah bisa direalisasikan,” jelas Amin.

Saat memasuki ruangan kelas yang digunakan para siswa SMAN 1 Tanah Abang untuk belajar, Heri kembali tercenung. Tumpukan kursi-kursi patah dan meja yang sudah bergoyang karena rusak menghiasi hampir di seluruh ruang kelas yang dimasuki.

Dinding penuh coretan. Kaca jendela yang pecah membuat Heri termenung. Tampak sekali rasa masygul (kecewa) di raut wajahnya. Saat melihat plafon kelas, tampak noda-noda hitam sisa tetasan air hujan. “Kalau hujan kelas ini bocor, Pak. Ada delapan kelas lagi yang bocor,” terang salah satu guru yang mengikuti kunjungan itu.

“Harus diupayakan segera, gedung-gedung sekolah seperti ini harus direhab. Sekolah negerinya saja begini, apalagi sekolah yang lainnya. Dari luar saja saya sudah tahu, sekolah ini banyak yang bocor. Lihat saja atapnya,” jelas Heri kepada Kabar Sumatera (KS) yang turut mendampingi.

“Perlahan harus segera ada perbaikan. Selain merehabilitasi gedung, jumlah sekolah kita yang kurang juga mendesak untuk ditambah.  Kita akan usulkan ke provinsi dan pusat untuk tambahan dana memperbaiki ini semua. Kalau mengandalkan APBD kabupaten saja pasti tidak cukup untuk memperbaiki fasilitas pendidikan di Kabupaten PALI ini. Sekolah ini kan tempat mendidik calon pemimpin kita. Tempat mendidik calon bupati, gubernur dan presiden, jadi kualitasnya harus bagus,” tambahnya.

Kadisdikparpora, Drs M Amin MSi, disela-sela sidak menyatakan, selama ini perhatian Kabupaten Muara Enim terhadap sekolah-sekolah disini sudah lumayan cukup. Namun Amin memperkirakan, jarak yang cukup jauh dari pusat pemerintahan sehingga pengawasan pembangunan menjadi lemah. Akibatnya kualitas bangunan menjadi rendah dan gampang rusak. “Lihat saja, bangunannya ada tapi kualitasnya rendah, baru dibangun dua tahun sudah hancur,” Amin memberikan argumentasi.

Amin juga menyesalkan pihak sekolah yang kurang kreatif dalam melengkapi fasilitas di sekolah itu. Seperti ruangan laboratorium yang hanya berisi kursi-kursi tua saja. “Kalau kosong begini, bagaimana mau praktik. Yang namanya laboratorium harus ada peralatan labor. Dana BOS itu seharusnya dimanfaatkan untuk fasilitas, sudah ada persentasenya. Kalau begini, ini bukan laboratorium MIPA. Ini namanya ruang Uka-uka,” ujar Amin sambil berseloroh.

 

TEKS / FOTO : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *