Semangat Sumpah Pemuda Hilang di Sumsel

Aksi Pawai Obor Sumpah Pemuda

Aksi Pawai Obor Sumpah Pemuda

PALEMBANG, KS-Hari ini, 28 Oktober menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Sebab di tanggal tersebut, 85 tahun yang lalu menjadi tonggak awal terjadinya persatuan antar pemuda di Indonesia. 28 Oktober setiap tahunnya, kemudian diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kini ditengah peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut, semangat persatuan di kalangan pemuda di Sumsel, masih patut dipertanyakan.  Pengamat sosial, Drs Wijaya Mc Msi menyebut pemuda di Sumsel masih terjebak dalam eksklusivisme dan arogan dengan kepentingan kelompoknya.

Pemuda di Sumsel juga menurutnya, masih cenderung berpikir pragmatis. Mereka berpikir, bukan bagaimana membangun masyarakat, namun berpikir untuk bisa merebut kekuasaan. “Sehingga Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI),  yang diakui pemerintah sebagai satu-satunya organisasi payung bagi semua organisasi kepemudaan di Indonesia, dijadikan sebagai tunggangan untuk bisa masuk ke dalam struktur elite partai politik (parpol). Inilah kenapa, di KNPI terjadi dualisme kepemimpinan,” kritik Wijaya ketika dibincangi, Minggu (27/10).

Berdasarkan catatan Kabar Sumatera, saat ini ada dua KNPI di Sumsel yakni KNPI yang dipimpin MF Ridho dan KNPI versi kepemimpinan Sofhuan Yushiansyah. “KNPI saat era orde baru, menjadi alat pemerintah untuk penyeragaman ideologi. KNPI pun, mendapatkan fasilitas dari pemerintah dan siapa yang menjadi Ketua KNPI, menjadi kartu jaminan untuk mendapatkan jabatan publik. Sehingga jabatan Ketua KNPI, begitu prestesius dan diperebutkan” ungkap Wijaya.

Di era reformasi , posisi KNPI tidak se prestesius ketika era orde baru. Namun tetap saja sebut Wijaya, KNPI menjadi rebutan. Sebab ada kue dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), yang diberikan kepada KNPI setiap tahunnya.

Selain itu, dengan fasilitas dan infrastruktur yang sudah memadai maka KNPI pun menjadi alat bagi kelompok tertentu untuk memasukkan kepentingannya. “Sehingga ada hukum tidak tertulis kalau menjadi pengurus atau Ketua KNPI, bisa menjadi sarana mendekatkan diri dengan kekuasaan. Setidaknya, bisa menjadi pengurus parpol,” tegasnya.

Pendapat yang sama juga diungkapkan pengamat sosial dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Alfitri. Ia mengatakan, KNPI saat ini tidak lebih aktivitas politik bukan aktivitas kepemudaan. Kondisi itu kata dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unsri tersebut, disebabkan adanya kelompok politik yang bermain.

“Jelas-jelas dualisme yang ada di KNPI sekarang, disebabkan ada partai politik yang bermain. Harusnya itu, tidak terjadi di organisasi kepemudaan. Namun saat ini KNPI, justru lebih banyak bermain mengejar kekuasaan yang sifatnya hanya kepentingan sesaat,” sebutnya.

Ia yakin sejumlah parpol, menempatkan kadernya di KNPI dengan tujuan untuk mempengaruhi organisasi tersebut. Karena KNPI jelasnya, dianggap sebagai organisasi yang bisa menjadi alat pencitraan bagi kelompok tertentu.

Akibatnya kata Alfitri, kelompok yang berkuasa dapat dipastikan akan bermain agar KNPI loyal dan sejalan dengan visi politik yang dibangun kelompok penguasa tersebut. Bukan hanya itu tegas Alfitri, perebutan kekuasaan yang terjadi di KNPI bukan disebabkan persoalan idiologi atau perbedaan pendapat bagaimana membangun dan membina organisasi serta membina pemuda.

“Yang banyak terjadi, justru aktivitas untuk mengejar kekuasaan politik. Kenapa Ketua KNPI selalu direbutkan ?, itu karena KNPI menjadi alat untuk mengejar kekuasaan. Selain itu juga menjadi alat untuk merebutkan ‘kue’ anggaran. Setiap tahun kan, KNPI mendapatkan bantuan dari APBD dan APBN,” tukasnya.

Teks     : Dicky Wahyudi
Editor  : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *