Produksi Padi Sumsel tak Stabil

Ilst. Petani

Ilst. Petani

PALEMBANG, KS-Walau termasuk sebagai provinsi, yang menjadi lumbung beras nasional ternyata produksi padi di Sumatera Selatan (Sumsel), juga mengalami pasang surut. Di 2012 menurut Asisten IV Pemprov Sumsel, Samuel Chatib,  produksi padi di Sumsel mengalami penurunan satu persen.

Hal itu menurutnya, disebabkan oleh perubahan iklim yang tidak menentu. Sehingga berdampak, pada kondisi lahan yang tanahnya juga mengalami kerusakan. “Namun tahun ini, produksi padi kita mengalami kenaikan 10 persen,” kata Samuel ketika dibincangi usai pembukaan Workshop Pemulia Lingkup Badan Litbang Pertanian dengan tema “Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumber Daya Genetik Pertanian, untuk Peningkatan Produksi Pangan Nasional melalui Inovasi Teknologi” di Hotel Djayakarta Daira, Palembang, Jumat (25/10).

Samuel yakni, produksi padi di Sumsel bisa ditingkatkan lagi. Caranya, memaksimalkan lahan yang ada terutama lahan pasang surut dan lebak. “Potensi lahan sawah yang paling luas, adalah lahan pasang surut dan lebak. Hampir 90 persen, dari potensi lahan pasang surut seluas 240 ribu hektar sekitar 200 ribu hektar itu masih satu kali tanam,” ucapnya.

Semenntara itu, Kepala Pusat (Kapus) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), M Syakir menyebut, trend penurunan kapasitas produksi pertanian hampir terjadi di semua negara.

Hal ini, disebabkan terjadinya penyusutan lahan pertanian, serangan hama pengganggu tanaman, dan dampak dari perubahan iklim global. Dalam situasi demikian, diperlukan pemecahan solusi yang bisa dipakai secara trans-nasional. “Misalnya dengan diadakan penelitian ke daerah, yang memang sudah langganan sebagai penghasil pertanian terbesar di dalam skala provinsi,” ujarnya.

Dalam konteks ini bebernya, dibutuhkan kecanggihan teknologi untuk mendorong peningkatan produksi pertanian termasuk padi.  “Bila kita ingin meniru-niru negara yang maju, dalam bidang pertaniannya seperti Jepang, China, dan Belanda. Maka penerapan teknologi, dibutuhkan untuk meningkatkan produksi produk-produk pertanian,” ungkapnya.

Syakir menambahkan, Sumsel berpotensi besar dalam menghasilkan bidang pertanian yang besarannya dari tanaman padi. Maka dari itu, sumber daya genetik (SDG), menjadi pemanfaatan langsung yang membutuhkan teknologi sebagai alat untuk merakit produk.

“Para peneliti pemuliaan Balitbangtan ,mempunyai peran penting di dalam menghasilkan varietas atau bibit/rumpun/galur dan teknologi perakitannya. Melalui kegiatan penelitian pemuliaan, bibit atau varietas unggul baru yang terbentuk dirakit untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar masa kini dan mendatang,” imbuhnya.

“Perubahan kondisi lingkungan, semisal perubahan iklim dan suhu lingkungan, perubahan selera dan kebutuhan konsumen atau perkembangan hama dan penyakit baru dan lain sebagainya merupakan diantara hal-hal, yang mendorong para pemulia untuk bekerja menghasilkan bibit atau varietas yang memenuhi dan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan tersebut,” tukasnya.

Teks     : Imam Mahfudz Ali

Editor  : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *