Kredit Bertumbuh Lambat

Ilst. Kredit

Ilst. Kredit

PALEMBANG | KS -Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan kredit di akhir 2013 akan melambat sebesar 20 persen.

Gubernur BI Agus Martowardojo menyampaikan, hingga akhir 2013 diperkirakan pertumbuhan kredit di kisaran 20 persen.

“Jika sekarang angkanya 20 persen plus minus 2 persen. Sampai akhir tahun ini, pertumbuhan kita mungkin sekitar itu. Pelan karena ada pengaruh dari kenaikan suku bunga,” demikian cetus Agus Martowardojo.

Kata Agus, secara teratur dan sistematis, BI akan terus mengikuti perkembangan dan pertumbuhan kredit serta kesehatan pertumbuhan kredit. Tidak hanya kualitas kredit, tapi juga likuiditas dan rasio kecukupan modal.

“Usah dulu kuatir, sebab kredit kita cukup kuat walaupun pertumbuhannya tidak terlalu tinggi sesuai dengan ekonomi kita, tetap tumbuh tapi pelan,” cetusnya.

Sudarta, Peneliti Ekonomi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah VII Palembang menyampaikan, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang tetap solid di tengah berbagai tekanan. Rasio kecukupan modal (CAR) tetap tinggi mencapai 17,89 persen, jauh di atas ketentuan minimum 8 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga rendah di angka 1,99 persen pada Agustus 2013.

“Hasil stress testing baik dari sisi likuiditas, kredit maupun permodalan juga mennjukkan ketahanan industri perbankan yang kuat terhadap risiko perlambatan ekonomi,” kata Sudarta

Jeffry AM Dendeng Chief Executive Officer Bank Negara Indonesia (CEO BNI) Kantor Wilayah Palembang mengatakan , penerapan Loan To Value (LTV) / Financing To Value (FTV) sangat tepat untuk diterapkan, karena pada intinya aturan baru dari BI ini sifatnya lebih melindungi konsumen, terutama untuk konsumen yang membeli rumah tapak pertama.

“Sistem dan aturan tersebut  bagus untuk melindung nasabah, hanya saja bagi perbankan akan sedikit mempengaruhi kinerja khususnya kredit sektor properti. Kredit inden selama ini memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pencapaian pembiayaan,” sebut Jeffry.

Ketika awal penerapannya kata Jeffry tentu BNI akan terpukul. Untuk itu kedepan BNI akan memperketat kerjasama dengan deplover yang selama ini memberikan KPR inden. BNI akan cendrung memilih deplover yang sudah terbukti treck recordnya sebab jika bermasalah tentu akan mempengaruhi rasio kredit bermasalah perbankan yang tentu akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank.

“Aturan yang dikeluarkan Bank Indonesia itu secara pribadi saya melihatnya, selain melindungi konsumen juga berfungsi untuk mencegah para deplover nakal yang membangun perumahan hanya untuk melakuan profit taking semata atau yang biasa disebut aksi spekulasi,” ungkapnya.

Didik Susatyo Pengamat  Ekonomi Sumsel  berkata, jika memang atura ini akan diterapkan tentunya kredit perbankan akan mengalami perlambatan, pasalnya properti selama ini memberikan andil yang cukup besar terhadap kredit yang disalurkan perbankan. Nampaknya BI sudah mewanti-wanti penyaluran kredit yang bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan bank.

“Dari bebrapa kali kenaikan BI Rate sudah mulai tergambar bahwa laju pertumbuhan kredit akan mengalami perlambatan, pasalanya untuk kredit disektor konsumtif seperti KPR akan mengalami kenaikan suku bunga yang jelas akan membebani nasabah, akibatnya nasabah yang memiliki penghasilan cekak akan menunda keinginannya membeli rumah secara kredit,” terangnya.

Sementara bagi pengembang kata Didik, tentu harus memiliki modal yang berlipat karena harus membanun rumah terlibih dahulu baru bisa melemparnya kepasaran melalui kredit.

“Namun apaun reaksi perbankan dan devlover tentu aturan ini bertujuan bagus baik bagi nasabah maupun bagi perbankan, hanya saja pada awal penerapannya akan menimbulkan raksi yang negatif darisisi kinerja,” tutupnya.

TEKS:JADID ULUL ALBAB

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *