Bank Waspadai NPL Merangkak

Ilst.

Ilst.

PALEMBANG | KS-Selain BI Rate tekanan ekonomi global masih menjadi alasan dominan penurunan pertumbuhan kinerja perbankan, baik penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Walhasil, bank pun harus mewaspadai Non Performing Loan (NPL) merangkak naik.

Berdasarkan data Bank Indonesia sejak empat bulan terakhir diketahui NPL perbankan mengalami peningkatan, walau masih berada dalam taraf wajar. Peningkatan rasio kredit bermasalah ini perlu dicermati oleh perbankan, soalnya berbagai perbakan mengaku tahun ini penyaluran kredit tidak sebagus tahun lalu. Lesunya kredit jika harus dibarengi dengan tingginya NPL, ini menjadi ajuan bagi perbankan untuk segera melakukan tindakan.

Sudarta, Peneliti Ekonomi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah VII Palembang memaparkan, tingkat kredit bermasalah NPL keseluruhan bank hingga Agustus sebanyak 3,66 persen. Angka ini mengalaikenaikan dibadingkan Juli 2013 mencapai 3,59 persen. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar, 3,15 persen.

“Walau sedikit mengalami peningkatan namun secara keseluruhan angka kredit bermasalah masih dalam batasan wajar, sebab BI sendiri mematok angka5 persen untuk ambang batas ketidak wajaran kredit bermasalah,” ungkapnya, Kamis (24/10)

Lanjutnya, perbankan masih kesulitan untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal, sebab hingga Agustus perbankanhanya mencatat pertumbuhan DPK 0,85 persen.

Kondisi ini jelas menjadi warning, sebab jika DPK terus mengalami penurunan tentu akan mempengaruhi tingkat kesehatan perbankan. Hal ini, disebabkan oleh belum membaiknya harga komoditi di Sumsel sehingga membuat masyarakat harus menunda pembayaran hingga harga komoditi kembali stabil. Walaupun meningkat, BI menganggap hal ini masih bisa dimaklumi sepanjang tingkat NPL masih berada dalam batas toleransi yakni 5 persen.

“Yang terpenting bagi kami adalah kualitas penyaluran kredit, dimana setiap perbankan harus lebih memprioritaskan penyaluran kredit di sektor produktif,” ungkapnya.

Hingga Juli 2013 penyaluran kredit di Sumsel mencapai angka Rp 51,03 triliun dengan rincinan kredit modal kerja mencapai Rp 19, 008 triliun, kredit investasi Rp 12,473 triliun dan konsumsi mencapai Rp 12,473 triliun.

Fatmahadi Kumala, Ketua Perbanas Sumsel menyebutkan, selama 2013 memang kinerja perbankan mengalami ujian berat. Alasannya? Antara penghimpunan dana dengan penyaluran kredit sama-sama mengalami perlambatan sehingga otomatis mempengaruhi kinerja secara keseluruhan.

“Sangat riskan jika perbankan menyalurkankredit jor-joran disaat kondisi sedang sulit, sebab bisa berpengaruh terhadap NPL, pasalnya daya beli dan daya angsur masyarakat menurun hal inilah yang perlu diceramati dunia perbankan,” tutupnya

TEKS:JADID ULUL ALBAB

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *