Penjara Di Panti Rehabilitasi

Panti rehabilitasi anak Nusantara (PRAN) yang berada di Jalan Sosial KM 6 Palembang, benar-benar mengundang rasa empatik. ruangan sebesar 3x5 meter persegi yang diberi terali besi persis di penjara.

Panti rehabilitasi anak Nusantara (PRAN) yang berada di Jalan Sosial KM 6 Palembang, benar-benar mengundang rasa empatik. ruangan sebesar 3×5 meter persegi yang diberi terali besi persis di penjara.

PALEMBANG KS-Di dalam panti rehabilitasi ini terdapat dua kamar yang ada penghuninya dengan kondisi berbeda satu ruangan lengkap dengan ranjang kayu bertingkat sementara yang satunya hanya ruang terbuka di desain persis seperti penjara lengkap dengan terali besi. Di dalam ruangan tersebut hanya ada beberapa buah tikar dan bantal kumuh yang dijadikan untuk alas tidur.

Sunaidi,  salah seorang Kepala Panti yang berhasil dibincangi Kabar Sumatera menuturkan, kalau kamar yang diberi terali tersebut merupakan kelompok anak-anak yang diciduk oleh Tim terpadu Dinas Sosial Kota Palembang. “Mereka yang di dalam sana adalah anak-anak jalanan yang diciduk oleh Tim Terpadu Dinas Sosial Kota Palembang. Karena menggangu ketertiban umum,”tuturnya.

Sunaidi berharap ditempatkanya Anjal di Panti Sosial ini agar ada efek jerah sehingga mereka bisa berubah. “Namun, kebanyakan anak-anak yang dititipkan oleh Tim Terpadu Dinsos Kota Palembang ini belum bisa meninggalkan kebiasaan mereka,”klaimnya.

“Kita ingin merubah tingkah laku mereka. Kita sudah berusaha mengajak mereka untuk sekolah, tapi kebanyakan dari mereka menolak untuk sekolah. Inilah yang kita sedihkan,” cetusnya.

Sementara itu, kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Palembang, Faizal AR membantah kalau anak jalanan (Anjal) tersebut diperlakukan tidak manusiawi “Anjal maupun anak funk yang mengatakan tidak layak tersebut, karena mereka ingin hidup bebas, padahal tempat panti tersebut sudah sangat manusiawi,”kata Faizal, Rabu (23/10).

Faizal mengklaim, ruangan yang ada di panti tersebut besar semua, tidak ada yang namanya kecil. Dan panti rehabilitas tersebut sudah sesuai dengan standar panti Pemerintah. Misalnya di beri makan 3 kali sehari, kalau tidak sekolah, maka akan di sekolahkan yang bekerjasama dengan Diknas.

“Makan di berikan 3 kali sehari, pagi, siang dan malam, dan untuk memberikan makan tersebut kami sudah bekerjasama dengan pihak ke tiga,”jelasnya.

Lebih jauh Faizal menjelaskan, mereka anjal maupun anak funk ini, sudah terbiasa mendapatkan uang dengan jumlah besar, dengan meminta-minta, mereka mampu menghasilkan uang minimal Rp 175 ribu perhari.

“Jadi hal tersebutlah yang membuat mereka malas untuk bekerja, tanpa mereka sadari perbuatan mereka berbahaya, mengganggu keamanan, dan lain sebagainya,”katanya

Faizal menambahkan, Walikota Palembang, sudah mengintruksikan kepada Dinas Pendidikan untuk menyekolahkan mereka. “Semua biaya akan di tanggung Pemerintah, jangan sampai mereka terkatung-katung, semua perlengkapan akan kita tanggung semua,”tegasnya.

Ini Bukan Membina Tapi Membinasakan

Menanggapi fenomena ini, Rina Bakri, Direktur Eksekutif Yayasan Puspa Indonesia Palembang yang bergerak dibidang advokasi terhadap perempuan dan anak menilai kalau sebuah pelanggaran terhadap anak.

Menurutnya, panti rehabilitasi ini seharus menjadi tempat pembinaan terhadap anak-anak jalanan tersebut bukan mengurung mereka “ Ini namanya bukan membina tapi membinasakan,”cetusnya.

Lebih lanjut Rina menuturkan, para anjal ini bukan pelaku kriminal jadi tidak seharusnya mereka dikurung di ruangan terali besi karena ini sudah melanggar hak asasi. Dan itu bisa dituntut secara hukum, karena melanggar undang-undang perlindungan anak.

Rina juga menambahkan, tujuan dinas sosial sebenarnya bagus, karena kepedulian mereka terhadap anak-anak jalanan. Tapi bukan seperti itu penyelesaiannya. Kalau kenyataannya mereka dikurung seperti di penjara.

“Makanya, dari dulu program pemerintah itu tidak pernah sukses, karena berjalan hanya satu pihak. Kalau anggarannya tidak ada, kenapa dipaksakan, yang menjadi korbannya adalah anak-anak. “Kalau begini jadinya, saya orang pertama yang akan menuntut pemerintah,” Ujarnya dengan nada kesal.

TEKS : ALAM/AHMAD MAULANA

EDITOR : ROMI MARADONA




2 thoughts on “Penjara Di Panti Rehabilitasi

  1. Adi Sangadi Syaifudin Zuhri

    KPAID akan melihat dulu bagaimana keadaan sebenarnya, krn Perda Anjal n pengemis sedang di godok, tp kita akan melakukan langkah2 Perlindungan anak bila memang benar info ini, sebenarnya sejak awal KPAID Kota PLG sdh mengusulkan Perda Perlindungan Anak agar mencakup seluruh masalah anak utk dpt sgr di selesaikan tdk hanya Anja saja. krn msh byk mslh anak termarjinal yg sgt tertutup justru dlm lingkup keluarga dekat atau kuasa asuhnya, spt anak yg tertekan mentalnya oleh org terdekat, anak cacat, anak tekebelakang mental/ideot bahkan anak yg stress/sakit jiwa. anak yg putus sekolah, anak kurang gizi, msh belum mendapat perhaian kita semua

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *