Konversi Gas Kapan Tuntasnya

SPBG

SPBG

PALEMBANG, KS-Rencana pemerintah mengkonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) berjalan lamban. Pemerintah dianggap hanya melempar wacana karena kegagalannya pada tahun-tahun sebelumnya. “Itu hanya lagu lama. Program ini pernah dicanangkan pada 2005, namun belum juga berhasil,” ujar pengamat energi Dirgo Purbo di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Dirgo, konversi BBM ke BBG harus ada kejelasan siapa dulu yang akan menggunakan BBG. Dengan ada kejelasan siapa yang menggunakan BBG, akan mendorong keberhasilan konversi tersebut. “Misalnya, mobil dinas pemerintah dulu yang dikonversi. Kalau sudah terukur seperti ini harus dihayati, bukan sekadar proyek,” tekannya.

Bagaimana di Palembang ?, ternyata konversi BBM ke BBG untuk kendaraan dinas dan kendaraan umum di metropolis juga bernasib sama. Bahkan program ini, dinilai  banyak kalangan hanya omong kosong. Program yang digadang-gadang sebagai alternatif mengatasi kelangkaan BBM dan mengurangi emisi kota dinilai gagal.

Di samping itu,  proyek BBG di Kota Palembang sejak 2008 lalu pun terkesan  amburadul. Tidak ada sistem kontrol, sosialisasi, tempat pengaduan masyarakat, standarisasi kualitas dan standard operating procedure (SOP) di SPBU. Demikian disampaikan Jayan Sentanuhady, Peneliti Mechanical  dan  Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Kata Jayan,  Kota Palembang adalah salah satu kota yang gencar meproyeksikan  percontohan konversi ke gas bahkan sudah bermula sejak  2008 lalu.  Adapun upaya kerja pemerintah yaitu  membagikan konverter kit ke 660 angkot dan 25 bus kota  di Kota Palembang. Hanya saja, sayangnya usaha itu nampak  menjadi sia-sia karena ketidakseriusan pemerintah menyiapkan segala keperluan yang ada.

“Silakan Anda lihat faktanya. Angkutan kota yang pakai converter kit di Kota Palembang kini tidak lebih dari 50 unit sampai 60 unit saja. Sementara bus hampir tidak ada lagi. Pertanyaan yang timbul cukup sederhana. Ini kenapa? Karena pemerintah cuma action, doang. Sistim kontrol, sosialisasi, tempat pengaduan, standarisasi kualitas dan SOP di SPBU serta bengkel yang akan merancang konversi tersebut nyaris tidak ada,” Jayan menyampaikan.

Kata Jayan, hal ini yang membuat program itu  bukan tambah maju, melainkan mundur. Bagaimana tidak, sopir tidak tahu kemana dia mengadu. Sementara tidak ada call center pengaduannya. Sosialisasi ke masyarakat  pun dinilai minim, sehingga masyarakat yang ingin menggunakan  angkot menjadi takut dan panik. Bahkan, tidak adanya  bengkel khusus Compressed Natural Gas (CNG)  yang bersertifikat menjadikan  perbaikannya seperti dikira-kira saja.

“Saya pernah diundang oleh salah satu pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang mengeluh karena pengguna angkutan kota yang memakai gas jumlahnya kian lama kian merosot.  Mereka meminta kami melakukan penelitian apa sebabnya kok jumlahnya turun. Setelah kami cermati, ternyata hasilnya mengejutkan dan menunujukan rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan ini,” jelasnya.

Teks     : Alam Trie Putra

Editor  : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *