38 Persen Perceraian Akibat Tidak Harmonis

Ilst. Cerai

Ilst. Cerai

LUBUKLINGGAU, KS-Pengadilan Agama, Kota Lubuklinggau mencatat, ada 38 persen penyebab perceraian dikarenakan tidak ada lagi hubungan harmonis dalam rumah tangga seseorang.

Hal tersebut diungkapkan Humas Pengadilan Agama yang juga menjabat sebagai hakim senior di Pengadilan Agama Kota Lubuklinggau, Drs H. Azkar, SH, Rabu (23/10).

“Ya, ada 38 pesen perceraian terjadi dikarenakan tidak ada keharmonisan,  selain itu, 25 persen akibat tidak ada tanggungjawab, 20 persen akibat persoalan ekonomi,  9 pesrn akibat gangguan pihak ketiga. Sisanya akibat poligami tidak sehat, krisis akhlak, cemburu, kawin paksa, kekejaman jasmani dan mental,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pada pertengahan Oktober 2013 ini, ada sebanyak sebanyak 774 kasus yang masuk di Pengadilan Agama. “Ada 774 kasus yang tengah kita tangani,” tuturnya.

Sambungnya, perceraian tersebut terbagi menjadi dua kategori, yaitu kategori cerai gugat dan kategori cerai talak. Cerai gugat berarti yang mengajukan cerai adalah istri, sedangkan cerai talak yang mengajukan adalah suami. “Kategori cerai gugat yang paling banyak,” ujarnya.

Untuk itu, sambungnya, salah satu upaya yang dilakukan Pengadilan Agama, selain memutuskan perkara juga memberikan penyuluhan hukum dan mediasi sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung  no 1 tahun 2008. “Setiap perkara perdata yang masuk ke Pengadilan Agama, terlebih dahulu di mediasi perdamaian,” tambahnya.

Sementara itu, Psikolog RS Dr. Sobirin Lubuklinggau, Een Efriyani M.Psi, mengatakan keharmonisan dalam rumah tangga tergantung kemampuan untuk  saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Biasanya, pasangan calon suami istri hanya kelebihan yang dilihat, sehingga kurang siap menerima keadaan yang sebenarnya. Ditambah lagi komunikasi yang buruk sehingga masalah-masalah yang kecil bisa menjadi besar.

“Solusi untuk menghindari perceraian adalah mengikuti pelatihan pra nikah, dan jika sudah menikah seringlah mengingat tujuan awal menikah dan bertanggungjawab dengan apa yang sudah kita pilih. Kalaupun terlanjur terjadi masalah, maka segeralah mencari yang bisa membantu, baik dari salah satu keluarga atau orang yang profesional. Jangan memperbesar masalah yang kecil, cari persamaan bukan perbedaan, kalau ada masalah selesaikan berdua dahulu jangan langsung mengajak pihak ketiga,” pungkasnya.

Teks: Supriadi

Editor : Junaedi Abdillah

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *