Mantan Kepala Dinas dan Bendahara Disidang

ILst. Hukum

ILst. Hukum

 

PALEMBANG, KS – Mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Peternakan, dan Perikanan (Tapanakprik) Empat Lawang, Tirta Jaya, dan mantan bendaharanya, Yayan Yandi, menjalani sidang keterangan terdakwa di PN Palembang, Selasa (22/10).

Kedua terdakwa yang diduga menggelapkan uang negara senilai Rp 154.452.113 juta dari proyek perluasan lahan sawah seluas 25 hektar 2010 mengaku tidak pernah menggelapkan uang negara.

“Uang sisa dari program itu senilai Rp 131.180.000 juta sudah kami kembalikan ke negara. Itu uang serahan dari rekanan yang tidak mampu melanjutkan proyek. Sebelumnya, uang itu disetor ke rekening penampungan yang khusus kami buat untuk proyek ini,” kata Tirta, di hadapan majelis hakim yang diketuai Posma Nainggolan.

Hanya saja, meski merasa tidak melakukan penggelapan dana, Tirta mengaku sudah merogoh kocek pribadi dengan jumlah Rp 50 juta untuk mengangsur pembayaran uang pengganti kepada jaksa. Majelis hakim pun heran dengan langkah yang diambil Tirta ini.

“Itu cuma antisipasi kalau-kalau memang ada kerugian negara. Kalau tidak ada, uang itu akan saya ambil lagi,” kata Tirta.

Sementara Yayan membenarkan jika adanya rekening penampungan saat proyek perluasan lahan pertanian berhenti di tengah jalan. Dia yang membuka rekening itu atas persetujuan dari Tirta.

Sidang ditunda oleh majelis hakim dan dilanjutkan pekan depan dengan pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, Amrahsyah Dekky.

Sebelumnya, Amrah sudah mendakwa kedua terdakwa dengan pasal berlapis, yakni pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1) UU No 31 1999 dan pasal 3 jo pasal 18 ayat (1) UU No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi.

Dari persidangan diketahui, Dintapanakprik memiliki proyek perluasan lahan sawah seluas 25 hektar dengan total anggaran Rp 187.500.000 juta di 2010.

Dintapanakprik menarik CV Mandala Saksi sebagai rekanan. Di tengah berjalannya proyek, tepatnya 30 persen dari total proyek, CV Mandala Saksi tidak mampu melanjutkan proyek di saat dana sudah disetor ke CV tersebut.

Tirta pun meminta sisa dana disetorkan kembali ke Dintapanakprik. Dengan bantuan Yana, Tirta membuka rekening khsusu penampungan sisa dana dari CV Mandala Saksi. Padahal, itu tidak diperbolehkan.

“Saya tidak tahu kalau itu tidak boleh. Saya tahunya di saat rekening itu sudah dibuka dan uang sudah disetor CV,” kata Tirta.

Teks : Oscar Ryzal

Editor : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *