Demi Masa Depan, Rela Duduk Diatap Bis

Demi Masa Depan - Anak-anak sekolah Dusun Talang Kampai Desa Benuang Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)harus rela duduk diatap bis demi marih masa depan.(Foto : Indra Setia Haris)

Demi Masa Depan – Anak-anak sekolah Dusun Talang Kampai Desa Benuang Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)harus rela duduk diatap bis demi marih masa depan.(Foto : Indra Setia Haris)

PALI | KS-Masih minimnya jumlah sekolah di Kabupaten PALI, mengakibatkan anak-anak sekolah harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk datang ke sekolah. Bagi yang tidak memiliki kendaraan mereka rela duduk diatas atap bis demi meraih masa depan.

Seperti yang dialami oleh anak-anak Dusun Talang Kampai Desa Benuang Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Untuk sampai di sekolahnya mereka harus menempuh jarak 6 Km untuk tiba ke sekolah SD.  7 Km untuk ke SMP dan 10 Km untuk sampai ke SMU itupun SMU yang masuk wilayah Kabupaten Muara Enim.

Untuk tiba di sekolah, anak-anak itu harus melewati hutan dengan kondisi jalan tanah. Bila hujan tiba, otomatis jalanan menjadi berlumpur. Bagi yang menggunakan kendaraan sepeda motor, anak-anak itu harus berjuang menghadapi lumpur sebelum tiba di sekolah mereka.

Bagi yang tidak memiliki motor, terpaksa harus menggunakan jasa mobil sewaan. Setiap minggu orang tua harus mengeluarkan uang Rp30 ribu per minggu hanya untuk membayar transport.

“Kami cuma mengadakan mobil saja. Kalau tidak begitu anak-anak kampung kami tidak bisa sekolah,” ujar Wa’eb penyedia jasa angkutan siswa dari desa Benuang Kecamatan Talang Ubi.

Bukan hanya di Benuang saja, hampir seluruh kecamatan, anak-anak SMP dan SMA harus menambah uang ekstra untuk membayar angkutan.

Parahnya, penyedia angkutan terkadang mengabaikan keselamatan anak-anak. Sopir sering memaksakan penumpang diluar kapasitas yang ada. Anak-anak sampai harus duduk diatas atap mobil.

Ketika musim hujan dengan kondisi jalan tanah yang licin dan berlubang, terang saja sangat membahayakan. Anak-anak bisa terjatuh. “Seharusnya pemerintah memikirkan keselamatan anak-anak. Mereka itu kan calon pemimpin PALI. Sopir juga jangan selalu mengeruk keuntungan semata,” keluh Pidin, tokoh masyarakat Tanah Abang.

“Kami bukan tidak peduli dengan keselamatan anak-anak. Kalau harus dibawah semua tidak muat. Mobil yang ada jumlahnya terbatas. Mau bolak-balik jelas tidak mungkin, anak-anak bisa terlambat,” ujar Hasan penyedia angkutan siswa di SMPN Kartadewa.

Pantauan Kabar Sumatera (KS), setiap waktu pulang sekolah di setiap SMP dan SMA selalu ada kendaraan angkutan siswa. Hanya di Talang Ubi saja angkutan mobil siswa tidak tersedia. Namun untuk SMP dan SMA seperti di Kartadewa, Talang Akar dan Benakat Minyak pemandangan serupa selalu terjadi.

Demikian juga di Kecamatan Abab, di SMP dan SMA Betung juga tampak demikian. Kecamatan Penukal pemandangan seperti ini didapati di SMP dan SMK Babat, SMA Air Itam. di Kecamatan Penukal Utara terdapat di Tempirai dan Kecamatan Tanah Abang pemandangan seperti ini terjadi di Tanah Abang dan SMP/SMA Desa Raja. Setiap sekolah menengah disitu tersedia angkutan kendaraan siswa. Saban siang, bus-bus tua tampak mengantri menunggu penumpang.

Kondisi ini tidak luput dari perhatian Penjabat Bupati PALI, Ir H Heri Amalindo MM. Menurut Heri, pihaknya bukan mengabaikan keselamatan para anak bangsa tersebut. Saat ini Pemkab PALI sedang mencari jalan keluar agar tidak terjadi lagi angkutan yang membahayakan itu.

Untuk mengurangi beban masyarakat terkait angkutan siswa, jelas Heri, caranya adalah dengan memperbanyak jumlah sekolah. “Kalau sekolahnya menyebar dan setiap kecamatan memiliki dua atau tiga SMA dan SMP-nya diperbanyak otomatis jarak tempuh siswa bisa dikurangi.

Kejadian seperti itu bisa dihindari dan program sekolah gratis bisa tercapai. Kalau menggunakan angkutan seperti itu, jelas membebani keuangan wali murid,” jelas Heri.

Namun Heri menyadari kondisi keuangan Kabupaten PALI yang baru terbentuk belum memungkinkan untuk memenuhinya dengan segera. “Harus bertahap dan dibantu Pemprov Sumsel dan pusat. Apalagi saat ini kondisi sekolah-sekolah disini sangat memprihatinkan. Perlu perbaikan. Dan jumlahnya juga sangat banyak,” ungkap Heri.

TEKS / FOTO  : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *