AWAS, Bank Asing Mengancam

Ilst.

Ilst.

PALEMBANG KS-Di mana ada gula, pasti di situ berhambur semut. Ini berlaku untuk perbankan asing yang bertumbuh di Sumatera Selatan (Sumsel). Akankah bank asing jadi penantang sekaligus mengancam bank lokal ataupun swasta di provinsi ini?

Sampai Juni 2013, bank asing membukukan  kenaikan pada laba tahun berjalan sebelum pajak sebesar 15,5 persen menjadi Rp 4,5 triliun dibandingkan Juni 2013 sebesar Rp 3,8 triliun.

Namun begitu, bukan rahasia lagi, bank asing yang ‘bermukim’ di Sumsel dinilai akan mengeruk keuntungan besar dari nasabah sekaligus menjadi ancaman. Terlebih, bank asingpun bertumbuhkembang ulah longgarnya aturan pemerintah terhadap masuknya bank asing ke Indonesia.

Irman Gusman, Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI bahkan menyayangkan apabila potensi market serta pertumbuhan ekonomi cukup bagus, dimanfaatkan bank asing mengeruk keuntungan.

Ia membeberkan, bank asing bisa memeroleh pinjaman uang dari Jepang dengan bunga sebanyak 1 persen. Uang itu selanjutnya dikembangkan dengan bunga rata rata di atas 12 persen.

“Nah, pemerintah itu harus melakukan evaluasi total atas kebijakan perbankan di Indonesia. Terutama terkait mudahnya bank asing masuk Indonesia. Situasinya saat ini sudah berubah,” cetus Irman

Idealnya, kata Irman, pemerintah membuat regulasi yang mengatur layanan bisnis bank asing, yaitu layanan bisnis perbankan yang belum bisa digarap oleh perbankan nasional. Misalnya, menggarap insfrastruktur dan investasi.

“Kalau sektor garapannya seperti consumer good, ya buat apa. Cukuplah itu untuk garapan perbankan nasional,” kata Irman seraya berucap tidak adanya perbedaan sektor garapan bank nasional dan asing membuat bisnis perbankan kurang menguntungkan pebisnis domestik.

Sementara itu, Joseph Abraham Ketua Asosiasi Perbankan Asing (Foreign Banks Association of Indonesia/FBAI) berkata, aturan badan hukum menjadi sorotan utama.

“Kami meminta (DPR) untuk mengizinkan kantor-kantor cabang yang ada untuk mempertahankan statusnya saat ini (sebagai kantor cabang bank asing) dengan pertimbangan good governance,” tegasnya.

Ucap Joseph, guna mendorong investasi dan konsolidasi sektor perbankan yang sesuai dengan arsitektur perbankan, kebijakan kepemilikan tunggal seharusnya sebagaimana diatur Bank Indonesia.

“Di mana investor lokal maupun asing dapat menjadi pemegang saham mayoritas dengan saham pengendali, dalam upaya mengonsolidasi sektor perbankan,” imbuhnya.

Yanuar Rizky, Pengamat Ekonomi memperjelas, aturan branchless banking yang  dirilis Bank Indonesia justru memuluskan jalan perbankan asing untuk masuk ke Indonesia dengan cara yang lebih mudah lagi. Terutama bagi bank asing yang memiliki infrastruktur sistem komputerisasi canggih serta modal kuat.

“Kalau bank asing tinggal punya lisensi bank di sini atau dalam arti membeli saham bank nasional, jadi dia bisa ambil TI-nya dan menyebarkan produknya tanpa cabang,” terang Yanuar.

Salah satu contoh bank asing yang asal mengibarkan benderanya di Indonesia adalah ING Bank asal Belanda. Banyak orang-orang yang dulunya pernah bekerja di ING Bank, direkrut oleh sebuah holding bank asing yang sudah membeli saham suatu bank kecil di Indonesia. Bukan ING Bank saja yang menikmati pola branchless. Yang lainnya sebut saja yang dipunyai Temasek Holding (Singapura).

“Mereka (holding bank  asing) juga rata-rata sudah punya sister company, misal Temasek sister company-nya Indosat, kalau Khazanah (Nasional Berhad-Malaysia) yang punya CIMB kan sudah memiliki XL Axiata. Kemudian yang sekarang punya Axis, yakni investor dari Timur Tengah, juga sudah punya bank kan. Jadi rata-rata mereka beli dua, yaitu beli bank juga perusahaan telco,” ungkap Yanuar.

Apakah branchless banking berjalan efektif atau tidak? Kata Yanuar, harus dilihat PBI-nya nanti seperti apa. Kalau isinya berhubungan dengan rezim perizinan, misal kepada SOP, tentu saja asing yang paling siap. Jika aturannya seperti multi licensing, mungkin license pertama (mengenai) infrastruktur, license kedua tentang status bank.

“Kalau kita lihat yang sudah punya ya asing, sedang lokal yang sudah punya Bank BUMN dan Telkom saja,” ujarnya.

Fatmahadi Kumala, Pemimpin BCA Cabang Palembang kepada Harian Umum Kabar Sumatera menjelaskan perbankan asing tentunya di samping mencari dana juga akan menambah pilihan bagi nasabah. Soal strategi? Bank asing tak jauh berbeda  dengan bank swasta umum.

“Ya, penjajah atau tidak, yang jelas mereka (bank asing-red) tetap jadi pesaing untuk memeroleh dana,” kata Fatmahadi Kumala.

Namun secara overall, bank asing yang berkantor di Sumsel ini memiliki segmentasi tersendiri.

“Kami melihat di mana ada gula di situ pasti ada semut. Nah, di Sumsel ini banyak sekali gula yang bertebaran. Itu sebabnya mengapa bank asing kian bertambah,” tuturnya.

Lingkaran Setan Perbankan

Fatmahadi Kumala Ketua Persatuan Bank Nasional Sumatera Selatan menegaskan, saat ini perbankan memasuki fase yang tersulit. Cukup banyak perbankan yang dililit kinerja stagnan.

“Seperti lingkaran setan yang sulit dilepaskan,” cetusnya.

Kesulitan yang dialami bank khususnya di Sumsel diawali jebloknya harga komoditas sehingga menipisnya permintaan importir. Komoditi ekspor terpaksa  jatuh cukup lama. Ini berimbas pada kinerja bank,” katanya.

Peluang keluar dari lingkaran setan itu masih ada, namun perlu campur tangan  pemerintah.

“Karet, misalnya. Lebih 50 persen diproduksi untuk ban. Makanya peran pemerintah cukup vital,” sebutnya.

TEKS:JADID ULUL ALBAB

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *