Warga MURA dan MUBA Juga Belanja Ke PALI

Mobil Tua : Sul bersama salah satu penumpang menyusun barang belanjaannya di mobil minibus tuanya.

Mobil Tua : Sul bersama salah satu penumpang menyusun barang belanjaannya di mobil minibus tuanya.

PALI | KS-Ternyata, pasar Pendopo Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tidak hanya menjadi pusat perekonomian warga PALI semata. Pasar tradisional ini juga melayani beberapa kecamatan yang terletak di desa tetangga seperti Musi Rawas (MURA)  dan Musi Banyuasin (MUBA).

Bila kita mengunjungi terminal Pendopo, kita akan menjumpai beberapa kendaraan yang melayani penumpang ke Kecamatan Muara Lakitan Mura dan Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Muba.

Kendaraan yang melayani kedua daerah itu, juga rutin mengangkut penumpang dan barang di terminal pendopo. Baik dari Pendopo ke Mura dan Muba atau sebaliknya. Sebelum pukul 08.00 WIB, terminal Pendopo akan ramai oleh penumpang.

Seperti dituturkan oleh Sul (42) salah satu sopir asal SP 6 Kecamatan Muara Lakitan Mura. Dengan menggunakan mobil minibus jenis Colt diesel Sul setiap hari selalu setia melayani warganya menuju Pasar Pendopo.

Kendaraan tuanya seolah tak pernah patah semangat membawa penumpang. Setiap hari mobil keluaran tahun 1982 itu selalu sarat dengan berbagai kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sembako, tabung gas elpiji sampai pupuk dan alat pertanian.

Sul yang  sudah menggeluti profesi sopir dari tahun 1992 ini mengaku dalam sehari dapat mengumpulkan uang rata-rata Rp500 ribu belum termasuk solar. “Kalau penumpang dikit, paling wong enam. Yang banyak tuh barang dagangan,” terang Sul.

Setiap penumpang dipungut biaya Rp25 ribu sementara barang Sul meminta bayaran Rp100 ribu, tergantung banyak barang yang dibawa. Tidak ada tarif resmi pemerintah yang menjadi patokan mereka. Sul menetapkannya hanya atas dasar kesepakatan.

Kedekatan jarak menjadi alasan warga Muara Lakitan ini untuk berbelanja ke Pendopo. “Kalau ke Lubuk Linggau jauh kak, 80km tapi jalannyo lebih bagus. Kalau ke Pendopo cuma 30km jalannyo jelek” jelas Sul.

Meskipun jarak ke Lubuklinggau hanya 80km, namun masih membutuhkan waktu dua jam bagi kendaraan tua seperti milik Sul itu. “Kalau ke Lubuklinggau mobil aku pasti ditilang, kalau disini kan tidak,” alasnya.

Hal yang menyedihkan dirinya adalah pada saat musim hujan. Sepanjang jalan yang didominasi tanah, Sul harus bekerja ekstra. Salah sedikit mobilnya terjebak lumpur. “Kalau masuk parit, susah kita. Bisa-bisa bermalam di jalan,” ujar Sul.

“Kami ini serba salah, kalau kemarau jalannya berdebu sampai-sampai tidak bisa melihat. Kalau penghujan, berlumpur. Sampai-sampai tidak bisa berjalan karena terjebak lumpur. Makanya sejak dibeli, mobil saya tidak pernah dicuci,” selorohnya.

Ke depan, Sul berharap pemerintah dapat memperbaiki jalan menuju desanya. “Kalau jalannya mulus, kami lebih memilih belanja ke Pendopo inilah. Lebih dekat,” tutup Sul.

TEKS / FOTO : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *