Proyek Bendungan Irigasi Air Manna 1 Terbengkalai

Bendungan irigasi Air Manna 1

Bendungan irigasi Air Manna 1

PAGARALAM, KS—Keberadaan Siring Tinggi Ari di Dusun Sindang Panjang, Kecamatan PUMI, Kabupaten Lahat, begitu berarti bagi masyarakat setempat untuk mengairi sawah, kolam dan lahan pertanian lainnnya.

Namun apa mau dikata, setelah adanya kucuran dana APBD Provinsi tahun 2013 senilai Rp 1,6 miliar untuk  proyek pembangunan bendungan irigasi Air Manna 1, ratusan hektar sawah terancam kekeringan. Pasalnya, proyek tersebut terbengkalai.

“Akibat pemasangan siring pasangan yang kurang tepat, setiap  hujan deras kerap terjadi banjir bandang hingga merusak  puluhan hektare  sawah. Proyek terbengkalai dan asal jadi ini, hingga kini pekerjaan pemasangan pintu air maupun kawat bronjong belum juga terealisasi,” kata Brensi dan Irpansi warga setempat, Minggu (20/10).

Menurut Brensi, sebelumnya sejumlah warga setempat sering kali menegur pihak pelaksana proyek pembangunan bendungan dimaksud agar dapat menyelesaikan bendungan Air Manna 1 tepat waktu dan ada manfaatnya bagi masyarakat setempat. Hal ini mengingat akhir tahun ini (2013-red) merupakan musim tanam padi.

Namun, sambungnya, hal itu tampaknya tidak menjadi perhatian serius pihak kontraktor untuk memperdulikan nasib para petani yang ada.

“Selain asal jadi, proyek ini belum bisa difungsikan dengan baik karena pintu air (pintu pembagi) yang ada belum juga dipasang termasuk tembok penahan yang terbuat dari kawat bronjong sekitar 40 meter hingga kini belum juga dilaksanakan,” kata Brensi.

Secara kasat mata, kata dia, pekerjaan itu hanya membangun bendungan dengan ukuran sekitar 8 x 20 meter dengan ketebalan sekitar 2 meter. Ditambah tembok penahan sekitar 2×8 meter dengan tinggi sekitar 2 meter.  Sementara bangunan irigasi sebelumnya hanya sebatas rehab sekitar 5 persen. Padahal  dana yang ada cukup besar yakni 1,6 miliar, bila dilaksanakan sebagai mana mestinya tentunya proyek bendungan irigasi Air Manna 1 akan lebih maksimal dengan dana sebesar itu.

“Volume yang terpasang sekitar 40 persen atau hanya membangun bendungan ukuran sekitar 8×20 meter dengan ketebalan sekitar 2 meter. Ditambah tembok penahan  sekitar 2×8 meter dengan tinggi sekitar 2 meter, padahal lokasi yang ada  sangat memungkinkan  untuk dibangun tembok penahan sekitar 60 meter lebih,” ujarnya seraya mengatakan proyek ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2013 yang bertepatan dengan musim tanam padi.

Sejauh ini, sambung Irpansi, sejumlah warga mulai merasa risih dan merencanakan akan mendatangi Pemprov Provinsi Sumsel  guna mempertanyakan transparansi adanya proyek pembangunan bendungan irigasi Air Manna 1 ini. Karena proses berlangsungnya proyek dimaksud hingga kini sama sekali tidak memasang papan proyek. Sementara sebelumnya ada oknum kontraktor telah berusaha mengelabui warga setempat dengan menerangkan  bahwa pembanguan bendungan irigasi Air Manna 1 ini bukan menggunakan uang Negara, melainkan bantuan pribadi dari salah satu calon Gubernur Sumsel.

“Upaya menyebar  tersebut dimaksudkan  agar masyarakat tidak terlalu banyak bertanya-tanya sumber dana berasal dari mana, mengingat pihak kontraktor sama sekali tiddak menggunakan papan proyek,” ungkapnya seraya menambahkan ratusan warga sudah merencanakan akan mendatangi kantor Gubernur Sumsel guna mempertanyakan keabsahan proyek tersebut, apakah proyek pribadi ataukah proyek milik Negara.

Sementara itu  Kepala Desa Sindang Panjang, Minhardi mengatakan, akibat proyek bendungan irigasi Air Manna 1 yang tak kunjung berfungsi dengan baik, ratusan hektar sawah milik warga yang ada di tujuh desa  se-Kecamatan PUMI terancam kekeringan diantaranya Desa Sindang Panjang, Gunung Kembang, Pagar Agung, Gunung Agung, Gunung Karte, Masang Pulau, Ulak Lebar.

“Padahal akhir tahun merupakan jadwal penanaman padi yang tepat  yakni antara bulan Juli-Agustus dan September-Oktober. Namun, bagaimana bisa melaksanakan penanaman padi bila sawah yang ada tidak dialiri air, termasuk ratusan kolam ikan terancam kekeringan,” terangnya.

Sebagai perwakilan, sambung Minhardi, warga berharap pihak kontraktor dapat segera melakukan perbaikan yang semestinya. Sehingga aktifitas para petani baik di ladang, kolam dan lahan perkebunan lainnya dapat berjalan normal kembali.

“Dalam waktu dekat, kami akan melaporkan hal itu kepada pihak Pemprov Sumsel agar prilaku oknum kontraktor nakal tersebut dapat diberikan sanksi tegas. Bila perlu, kami laporkan hal itu kepada pihak penegak hukum agar dapat menelisik penyimpangan-penyimpangan yang merugikan Negara,” tegas Minhardi menyesalkan.

Teks : Antoni Stefen / Jumra Zepri

Editor : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *