Pasar Petang Tumpah Kejalan

Deretan pedagang yang menggelar dagangan di sisi jalan propinsi Simpang Belimbing-Sekayu, desa Purun Kec Penukal Kab PALI. Pasar sayuran yang digelar saban sore ini, sering menyebabkan macet.

Deretan pedagang yang menggelar dagangan di sisi jalan propinsi Simpang Belimbing-Sekayu, desa Purun Kec Penukal Kab PALI. Pasar sayuran yang digelar saban sore ini, sering menyebabkan macet.

PALI | KS-Pasar sayur-sayuran biasanya digelar pada pagi hari. Namun untuk warga Desa Purun Kecamatan Penukal, pasar yang banyak dikunjungi ibu-ibu itu justru digelar pada sore hari. Setiap sore para pedagang sayuran berjejer rapi di sepanjang sisi jalan.  Yang jadi persoalan bukan soal waktunya. Namun barang dagangan warga di sepanjang jalan itulah yang jadi masalah.

Sebab, dengan dagangan itu, jalan Provinsi Simpang Belimbing – Sekayu MUBA, keberadaannya justru memperlambat laju kendaraan. Apalagi, pedagang yang menggelar dagangannya itu berada di sepanjang sisi jalan tepat di pertigaan menuju Kecamatan Abab.

Akibatnya, para pembeli yang datang hendak berbelanja pun melenggang di tengah jalan. Sopir yang melalui jalan ini, mau tidak mau, harus mengurangi kecepatan. Kalau tidak begitu, bukan tidak mungkin resikonya menabrak para pedagang dan pembeli.

“Harus hati-hati nian, kak. Sisip dikit nyenggol ibu-ibu. Biso dapet masalah kito,” keluh Wahidi, salah satu sopir truk saat dihubungi wartawan, Minggu (20/10).

Wahidi yang mengaku asal Sekayu ini, mengangkut batu dari Lahat hendak dibawa ke Sekayu. Meski keberadaan pasar yang menghambat lalu lintas kendaraannya, namun Wahidi sedikit memaklumi. “Seharusnya diberi tempat agar tidak membahayakan. Tapi, tergantung pemerintah, kak. Rasonyo hampir tiap dusun, kalu hari pasaran pasti bikin macet, seperti di Ujan Mas,” terang Wahidi.

Sementara Anto, Kepala Desa Purun yang dihubungi KabarSumatera (KS) mengakui kalau keberadaan pedagang di desanya mengganggu laju kendaraan. “Awalnya kita sediakan tempat di Balai Desa di simpang tiga. Tapi karena tempatnya terbatas, kita tidak bisa menghalangi pedagang untuk berjualan di jalan,” ujar Anto.

Menurut Anto, dulu pihaknya sudah mengusulkan kepada Pemkab PALI, agar dibuatkan pasar yang representative. Namun sampai saat ini belum ada realisasi. “Kita sudah siapkan lahan untuk relokasi pasar itu. Tapi belum ada realisasinya. Tidak tahu sekarang kalau sudah jadi Kabupaten PALI,” tambahnya.

Sementara itu, Rizal Kenedi, SH MH, tokoh masyarakat Purun yang juga anggota Komisi IV DPRD Sumsel, berharap Pemkab PALI dapat mengalokasikan anggaran untuk pembangunan pasar Purun ini. Namun Rizal juga mengingatkan kepada masyarakat dan pemerintah agar dapat merawat setiap aset yang dibangun dengan dana APBD. “Saya perhatikan, sangat jarang, aset seperti pasar ini dirawat dengan sungguh-sungguh. Sehingga belum berapa lama sudah rusak dan harus membebankan perbaikannya pada APBD lagi,” ungkap Rizal.

TEKS / FOTO : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *