Pendidikan di PALI Tertinggal Dua Dekade

Drs Muhamad Amin MSi - Kepala Dinas Dikparpora Kab.PALI

Drs Muhamad Amin MSi – Kepala Dinas Dikparpora Kab.PALI

PALI | KS-Dinas Pendidikan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disdikparpora) Kabupaten PALI harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalannya dari kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Selatan, khususnya Muara Enim.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Dikparpora Kabupaten PALI, Drs Muhamad Amin, MSi kepada Kabar Sumatera (KS) Jumat (18/10). “Saya ini sudah keliling ke seluruh pelosok Muara Enim. Saya sudah ke Gelumbang, Gunung Megang, Semendo dan lain-lain. Saya nilai kita tertinggal dua decade,” ungkap Amin.

“Adik-adik tinggal kalikan saja, satu dekade berapa tahun, sepuluh tahun kan? Kalikan dua,” jelasnya.

Ketertinggalan ini, ungkap Amin terkait fasilitas pendidikan di Kabupaten PALI yang dinilainya masih sangat minim. Padahal dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Muara Enim fasilitasnya masih tertinggal jauh. Padahal Kabupaten PALI baru enam bulan dimekarkan dari Kabupaten Muara Enim.

“Sarana pendidikan dan penunjangnya betul-betul tertinggal. Anda lihat saja SDN Pantadewa (Kecamatan Talang Ubi-red), kondisinya sangat memprihatinkan. Itu bukan sekolahan kalau kayak gitu. Belum lagi SDN Benuang, kalau hujan kelasnya basah semua. Belum lagi jumlah sekolah menengahnya,” jelas mantan Camat Belimbing itu.

Untuk itulah, Amin berharap tahun 2014 mendatang APBD Kabupaten PALI dapat mencukupi untuk mengejar ketertinggalan itu.

Amin mengupayakan dalam beberapa tahun ke depan, pihaknya akan lebih fokus memperbanyak pembangunan dan perbaikan sekolah sehingga lebih layak untuk digunakan. “Alhamdulillah bapak Bupati sangat merespon. Beliau sangat peduli terhadap dunia pendidikan kita,” ujarnya.

Terkait kurangnya fasilitas penunjang seperti bangku dan meja di beberapa sekolah, Amin menilai hal itu  disebabkan fasilitas itu rusak. “Bangku dan meja yang rusak bukan semata-mata karena kesalahan kontraktor,” katanya.

Kerusakan ini akibat kelalaian guru dalam mengawasi murid dikelas. “Anda bayangkan, kalau satu guru mengajar dua kelas salah satu kelas pasti ditinggal. Sehingga anak-anak ribut bermain bangku sampai akhirnya patah. Ini juga yang jadi pemicu kurangnya fasilitas pendidikan yang kita miliki,” tambahnya.

TEKS / FOTO : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *