Rakyat Miskin Sumsel Hanya 2 Persen

Foto : Bagus Park

Foto : Bagus Park

PALEMBANG KS-Selama periode 2012, angka kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menurun ke angka hanya 2 persen. Sebuah prestasi ataukah nasib rakyat dikebiri?

Angka kemiskinan sebanyak 2 persen di Sumsel selama 2012 yang dikeluarkan pemerintah itu sebetulnya lebih mengarah ke fluktuatif. Di mana indikator kemiskinan bukan semata berada di wilayah perkotaan, melainkan juga berpatok di kawasan pedesaan.

“Aku tak ngerti dari mana angka itu bisa diperoleh. Padahal, kita tahu sesungguhnya rakyat di pedesaan masih banyak yang belum sejahtera. Artikata, ekonomi orang desa itu sangat bergantung dari nasib komoditi baik karet maupun sawit,” cetus Ir Rusli M Haz, Pengamat UMKM kepada Harian Umum Kabar Sumatera, Kamis (17/10).

Konsultan Bank Indonesia ini menambahkan, nyatanya justru yang dialami oleh rakyat pedesaan adalah persoalan harga komoditi unggulan acapkali menurun dratis. Walhasil, hal itu menyebabkan terjadi kelambanan perbaikan imcome masyarakat yang bermukim di pedesaan.

“Jadi, pengertian kemiskinan itu harus dibaca dalam artian yang luas. Bagaimana mungkin rakyat miskin turun, sementara investasi sektor produksi kian menjauh. Anda bisa lihat sendiri, di perkotaan ini justru yang berkembang investasi bidang jasa seperti perhotelan dan usaha lainnya. Sedang, yang berinvestasi di produksi tak banyak kita temui,” Rusli menceritakan.

Selanjutnya di mata Rusli, klaim angka kemiskinan hanya 2 persen agaknya berbanding terbalik dengan kenyataan yang sesungguhnya. Apalagi sejak kenaikan harga bahan bakar minyak dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000, daya beli masyarakat pun sedikit terganggu.

“Nah, pertanyaannya apakah sekarang ini dayabeli rakyat itu sudah berimbang terkait dengan kebutuhan?,” Rusli balik bertanya.

Dengan lantang pula, Rusli menyebutkan, sejauh ini infrastruktur transportasi khususnya di wilayah pedesaan tidak terlalu kencang. Jika infrastruktur tidak mendukung tentu akan menggangu aktivitas produksi yang diciptakan masyarakat terutama yang berpengasilan rendah.

“Saya lihat upaya pemerintah untuk mendorong bertumbuhkembangnya sektor usaka kecil dan mikro pun belum optimal. Boleh Anda lihat saja di pedesaan yang jauh dari kota, masalah sertifikasi lahan masih mendominasi. Jadi, di mana letak kinerja BPN selama ini?,” tutup Rusli dengan nada meninggi.

Tak ada yang bisa menyangkal bahwa sejak beberapa tahun ini pelbagai even baik nasional maupun internasional digelar di provinsi ini. Di atas kertas lini sektor pembangunan bahkan melaju pesat. Termasuk di dalamnya pelayanan publik khususnya bidang teknologi dan transportasi.

“Bahwa memang pembangunan di pendidikan dan kesejahteraan cukup berkembang pesat di provinsi ini. Itu harus kita akui,” demikian kata H Fazadi Afdanie, Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan di sela-sela peresmian Rapat Pimpinan Provinsi Kamar Dagang dan Industri Sumsel di Ballroom Hotel Aston Palembang, Kamis (17/10).

Fazadi membeberkan, sesuai data 2012 diketahui angka kemiskinan hanya 2 persen untuk Sumsel. Adapun salahsatu faktor menipisnya angka kemiskinan itu disebabkan Sumsel beberapa kali dipercaya sebagai tuan rumah penyelengara even skala besar.

“Ya, selama 2012 angka kemiskinan di Sumsel ini hanya 2 persen. Guna mendorong bertumbuhnya ekonomi dan pembangunan sangat bergantung dari masyarakat itu sendiri. Saya berharap ke depannya ada langkah dan upaya untuk menurunkan angka kemiskinan lebih besar lagi,” Fazadi menyebutkan.

Terkait seputar turunnya angka kemiskinan ini, Ir Ahmad Rizal, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumsel menjelaskan, dalam menjalankan peran dan fungsi pokoknya di sektor pembangunan ekonomi Indonesia sebagai partner pemerintah sekaligus lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional, Kadin berupaya seoptimal mungkin berperan aktif membangkitkan keyakinan bahwa pentingnya penguatan pengusaha nasional.

Pun dalam bekerja, lanjut Rizal, Kadin Sumsel bersifat mandiri yang tidak meminta anggaran pada siapa pun termasuk instansi pemerintahan. Namun begitu, dengan kiprahnya, Kadin bahkan sanggup menjalin kerjasama terhadap semua golongan yang ingin mensejahterakan masyarakat lewat program yang telah dirancang.

“Dari agenda yang kita buat, ada semacam evaluasi kerja di tahun-tahun sebelumnya. Juga akan memasang dan merencanakan program kerja pada 2014 mendatang. Ya, dengan melibatkan seluruh anggota Kadin yang ada, kita terus berusaha membangun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Rizal usai Rampinas Kadin se-Sumsel.

Senada dengan Rizal. Didi W Suwondo, Wakil Ketua Umum Kadin Pusat meyampaikan, setiap Kadin yang ada hendaknya harus mampu melancarkan perekonomian di daerahnya. Alasannya? Jawab Didi, Kadin Sumsel idealnya harus mampu meningkatkan lebih jauh lagi akan pesatnya kemajuan perekonomian di Sumsel.

“Meningkatnya perananan  Kadin baik pusat maupun daerah itu pengaruhnya sangat kuat sekali bagi kesejahteraan masyarakat. Ini semua menjadi tugas pokok anggota yang ada. Jadi kita mintakan, pada semua anggota Kadin agar terus secara konsisten jalin mitra dengan pemerintahan supaya bisa saling rangkul dalam hal percepatan pembangunan ekonomi,” Didi menerangkan.

TEKS:IMAM MAHFUDZ

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *