Nilai-Nilai Humanisme Hari Raya Idul Adha

Oleh Khoirul Anwar,

Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang

“Dengan maraknya berbagai aksi kekerasan di Indonesia yang nota bene adalah negara muslim terbesar di dunia, tindak kekerasan, mulai dari teror, perusakan tempat ibadah, kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai bola salju yang terus menggelinding dan melaju, agaknya hari besar ini patut dijadikan sebagai kontemplasi religius: kenapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi di sana-sini terdapat aksi kekerasan? Bukankah Islam melarang manusia bertindak anarkis? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan demikian, dalam hemat penulis, disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itu Idul Adha kali ini jangan hanya dijadikan sebagai “perayaan ritual” an sich, tapi lebih dihayati sebagai hari di mana Allah melarang umat manusia bertindak anarkis.”

Alkisah, tepat pada malam 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi didatangi seseorang yang membawa pesan dari Allah yang isinya agar Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Ishaq. Di pagi harinya hingga sore ia merenung atas mimpi tersebut, apakah mimpi itu benar dari Allah ataukah setan? Atas kejadian inilah tanggal 8 Dzulhijjah, dinamakan hari renungan (Yaum al-Tarwiyyah).

Pada malam selanjutnya Ibrahim bermimpi seperti hari sebelumnya hingga ia tahu bahwa mimpinya benar-benar dari Allah. Oleh karena itu tanggal 9 Dzulhijjah diberi nama hari pengetahuan (Yaum ‘Arafah).

Mimpi demikian terjadi lagi pada malam selanjutnya hingga Ibrahim paham betul bahwa ia benar-benar diperintahkan oleh Allah untuk meng-qurban-kan anaknya. Karena tragedi inilah tanggal 10 Dzulhijjah disebut dengan hari kurban (Yaum al-Nahr).

Atas dasar ketakwaannya kepada Allah, Ibrahim pun rela untuk membunuh Ishaq, satu-satunya anak yang ia miliki dan sangat ia cintai. Namun di saat pisau yang akan digunakan menyembelih itu dihunuskan ke leher anaknya, tiba-tiba tumpul, tidak berjalan dan seketika itu terdapat suara gaib yang menyeru bahwa mimpi tersebut benar, namun Allah telah mengganti perintahnya dengan menyembelih kambing, bukan manusia.

Kisah Ibrahim ini dikemudian hari diperingati oleh umat Islam dengan nama Idul Adha.

Idul Adha dan Aksi Radikalisme
Dalam cerita di atas, Allah mengganti Ishaq dengan kambing membuktikan bahwa Allah melarang manusia melakukan tindak kekerasan terhadap sesama. Hal ini ditegaskan oleh sabda Nabi Muhammad yang disampaikan ketika beribadah haji yang terakhir (hajjatul wada’). Beliau berpesan, bahwa ada tiga hak yang harus dijunjung tinggi oleh umat Islam, yaitu hak hidup yang jauh dari pertumpahan darah dan kekerasan (dima’), hak properti dan harta benda (amwal), dan hak kehormatan dan profesi (a’radl).

Bahkan demi merealisasikan misi menebar kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin) yang dimiliki Islam, ajaran ini tertuju pada lima pokok universal; menjamin kebebasan beragama (hifdzu al-din), memelihara nyawa (hifdz al-nafs), menjamin kebebasan berwacana dan berekspresi (hifdz al-‘aql), menjaga keturunan (hifdz al-nasl), dan memelihara harta benda (hifdz al-mal).

Dengan maraknya berbagai aksi kekerasan di Indonesia yang nota bene adalah negara muslim terbesar di dunia, tindak kekerasan, mulai dari teror, perusakan tempat ibadah, kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai bola salju yang terus menggelinding dan melaju, agaknya hari besar ini patut dijadikan sebagai kontemplasi religius: kenapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi di sana-sini terdapat aksi kekerasan? Bukankah Islam melarang manusia bertindak anarkis? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan demikian, dalam hemat penulis, disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itu Idul Adha kali ini jangan hanya dijadikan sebagai “perayaan ritual” an sich, tapi lebih dihayati sebagai hari di mana Allah melarang umat manusia bertindak anarkis.

Idul Adha dan Aksi Sosial
Qurban yang menjadi salah satu ritual pada hari raya Idul Adha merupakan bukti nyata bahwa ajaran Islam sarat dengan bakti sosial. Oleh karena itu qurban tidak harus dipahami sebagai upacara “penumpahan” darah binatang semata, melainkan ia harus dipahami secara kontekstual.

Qurban adalah media untuk mendekatkan diri kepada Allah yang di dasarkan pada rasa taqwa. Tanpa landasan taqwa, qurban tak lebih dari “upacara konyol”. Dalam legenda agama diceritakan bahwa ketika Habil (Abel) dan Qabil (Kain) berqurban, Allah hanya menerima qurban dari Habil karena ia berqurban dengan penuh ketaqwaan, sementara Qobil sebaliknya.

Dengan demikian qurban dengan menggunakan uang, menyediakan tempat tinggal kepada orang yang tuna wisma atau memberikan modal kepada pengangguran diperbolehkan, karena sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. 22:37 bahwa Allah tidak menerima daging dan darah binatang qurban, melainkan yang Ia terima adalah taqwa dari pelakunya.

Dalam semua perilaku manusia Allah hanya menerima ketaqwaan dari mereka, karena derajat dan kemuliaan manusia hanya terletak pada sisi ini. Kendati demikian, manfaat taqwa sendiri sejatinya kembali kepada diri manusia, baik itu manusia sebagai makhluk individu maupun sosial.

Dengan demikian puncak dari ketaqwaan adalah kesalehan sosial dari si empunya. Jika ada sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai “muslim” namun orang lain sering menjadi korban kekerasan atas ucapan atau tangannya maka sesungguhnya pengakuan tersebut jauh panggang dari api. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” Dengan datangnya hari raya Idul Adha 1432 H., semoga di Negara kita tak lagi terjadi kekerasan dalam bentuk apapun.**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *