Mengais Rupiah Dari Daun Kelapa

Ilst. Pengrajin Ketupat | Agus KS

Ilst. Pengrajin Ketupat | Agus KS

PALEMBANG KS-Jelang lebaran Idul Adha 2013, banyak penjual bungkusan ketupat berbahan daun kelapa yang bertebaran di mana-mana. Intinya adalah mengais rupiah dari dedaunan kelapa. Omzet pun meningkat dua kali lipat.

Nyonya Ika (28) sehari-harinya menjadi Ibu Rumah Tangga di Jalan Pangeran Lorong Singa Yudha, Tangga Buntung, Palembang. Kali ini Ibu dua anak ini bahkan tak mau ketinggalan untuk meraup rupiah dari momentum lebaran Haji. Sebagai penrajin kemasan ketupat dengan bahanbaku daun kelapa, Ika sejak sepekan terakhir selalu ‘mangkal’ di kediamannya untuk menawarkan aneka bentuk bungkusan ketupat ke pelanggannya.

“Selain daun kelapa, saya juga membuat bungkusan ketupat dari daun nipah dan panda,” cetusnya.

Cerita Ika, sebelum daun berubah menjadi bungkusan ketupat, daun dijemur seharian hingga mengering. Sebab, alau tidak di jemur akan menyebabkan warna berubah jadi hitam dan berbau menyengat. Sedang, cara pembuatanya cukup  gampang selain niat dan ulet juga butuh keahlian dalam membentuk bungkusan ketupat.

“Dak pulo susah nian buatnyo. Cukup merati bae dan galak belajar pasti cepat biso,” cetus Ika dengan logat khas Palembangmua.

Suami dari Juandi (30) ini menambahkan, untuk bahan baku daun kelapa ia peroleh dari kawasan Kertapati melalu pengiriman perahu ketek. Untuk produk bungkusan ketupat yang dipasarkan ada dua ragam bentuk yakni berukuran besar d gunakan tukang sate dan berukuran kecil sering dijadikan hidangan saat lebaran,

“Kami jual bungkus ketupat ini bukan hanya jelang lebaran saja, tetapi sudah jadi mata pencaharian sehari-hari. Biasanya ada yang beli 10 bungkus aku jual seharga Rp 2.500,” ungkapnya.

Dengan lugas Ika pun berkata, menjajakan bungkusan ketupat ini bukanlah hal yang baru untuknya. Apalagi, bisnis yang satu ini berasal tradisi sejak kakeknya tempo dulu. Atas kerjakerasnya selama ini Ika pun berhasil menghimpun pelanggan dari penjuru kota ini.

“Kebanyakan pesanan dari warga yang tinggal di Maska Rebet, Kenten, Pasar 16 Ilir, Pasar 22, dan Pasar 26 Ilir. Mereka membeli dengan cara borongan sedikitnya 1.000 bungkus ketupat. Pesanan ini ada yang dipakai untuk sate. Nah, kalau lebaran Haji ini yang mesan agak berkurang dibanding Idul Fitri,” Ika menyebutkan.

Soal modal kerja? Ika berujar, hampir setiap bulannya ia menggelontorkan uang untuk modal kerja sebanyak Rp 1,6 juta. Duit itu pun dipakai untuk membayar upah pekerja dengan ketentuan setiap 100 buah mendapat bayaran Rp 2.000.

“Laba dari jualan bungkusan ketupat ini tak menentu, tapi dibanding tahun lalu ada peningkatan,” tuturnya.

Nurjanah (53) yang kini menjadi karyawan Ika menyampaikan, bila ditotal, seharinya ia sanggup membuat bungkusan ketupat hingga seribu lebih.

Aku la lah lamo buat bungkus ketupat ini. Ke depannya aku cuma berharap ada bantuan untuk modal kerja usaha ini. Yo, biso dari pemerintah atau instansi terkait. Itu bae,” Nurjanah meminta.

TEKS/FOTO:AGUS EDWAR (Mg)

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *