Berhitung Untung Si Penjual Kembang

Ilst., Penjual bunga.

Ilst., Penjual bunga.

PALEMBANG KS-Bila dahulu banyak penjual kembang yang meraup omzet berlimpah, namun sekarang ini nyaris sebagian besar penjual jasa aneka kembang dan bibit tanaman buah mulai tertatih. Sengitnya persaingan harga dan lesunya dayabeli konsumen menjadi alasan mengapa keuntungan yang didapat kian menipis. Laba yang dihimpun pun kadang tak menentu.

Kamis 10 Oktober 2013 persisnya pagi jelang siang tak nampak kesibukkan di seputaran kebun kembang hias milik Slamet. Justru yang terlihat lelaki 45 tahun itu  masih saja memberesi kembang-kembang yang ia tarok dalam polibag. Tak lama kemudian Slamet pun bergegas menyirami semua kembang yang hendak ia jual ke pelanggan.

“Aku baru buka usaha jualan kembang ini sudah tiga tahun. Sebelumnya aku begawe dengan wong lain selama 10 tahun dan aku digaji seadanya,” cetus Slamet sambil memerlihatkan aneka kembang hiasnya.

Lokasi usaha kembang yang dikelola Slamet ini tepat berada di pinggiran Jalan Ratu Alamsyah Prawira Negara. Agaknya Slamet termasuk orang yang beruntung. Betapa tidak? Ia pun boleh dikata cukup kenyang pengalaman soal berbisnis kembang hias ataupun tentang bagaimana bibit tanaman hortikultura.

Alhamdulillah, berkata tekad dan keyakinan yang aku miliki, sekarang aku bisa membuka usaha  dewek. Awalnya aku bangun usaha ini dengan modal Rp 1,5 juta,” kata Slamet sedikit bangga.

Seperti air mengalir. Pun begitu pula dengan bisnis kembang yang dirintis Slamet sejak 2010 lalu itu. Slamet memang sadar walau modal kerja yang terbatas, namun optimisme bisnisnya bertumbuh pesat dan memeroleh keuntungan yang berlibat.

“Jujur bae, dalam bisnis ini Kun Fayakun kata Allah, jadilah. Aku syukur nian sekarang lokasi usaha ini luasnya sudah 14 meter persegi,” ucap pria separuh baya ini.

Seiring berputarnya waktu, Slamet pun tak ingin merasa cepat puas atas bisnis yang dirintis. Untuk memberi kepuasan pelanggan setianya, Slamet berusaha menyajikan aneka bibit buah nan unggul.

“Ya, selain ada bermacam-macam jenis kembang, aku juga menyediakan bibit buah-buahan yaitu duren, rambutan, lengkeng pingpong, dan mangga bervarietas unggul. Harga termahalnya Rp 250.000 per buah dan harga buah standar Rp 15.000 per polibag.

Cerita Slamet, kembang hias yang ia pasarkan juga bervariasi sekisar Rp 10.000 hingga Rp 300.000 per buah. Untuk brokoli, melati kapur, dan melati biasa dijual seharga Rp 15.000. Juga asoka dan kembang mertua dengan tarif sebanyak Rp 5.000 per buah.

“Justru untuk pembibitan yang paling susah itu adalah kembang bonsai. Soalnya, bonsai ini harus dari nol hingga umurnya puluhan tahun. Harganya ada yang Rp 500.000 hingga Rp 15 juta. Bergantung dari bentuk dan kualitasnya,” tutur Slamet sambil berkata sebagian bibit kembanynya dipasok dari lokal, Medan, Lampung, dan Jakarta.

Kata Slamet, adapun sara membuat bibit buah-buahan yang akan dipasarkan  meliputi stek.

“Aku cuma minta agar pemerintah membantu kami dalam membesarkan  bisnis kembang ini,” ucapnya.

Leman (44) yang sehari-harinya ertugas mengurusi kebun kembang milik Slamet menyebutkan, selain menjual anek kembang, ia juga menawarkan beragam pot yang terbuat dari bahan tanah liat atau minimali.

“Harganya itu antara Rp 12.500 sampai Rp 300.000,” katanya.

TEKS/FOTO: AGUS EDWAR (Mg)

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *