Bahasa dan Sastra Besemah Terancam Punah

Ilst..

Ilst..

PAGARALAM, KS—Keberadaan Bahasa dan Satra Besemah kian hari semakin terancam punah akibat didominasi budaya modern di kehidupan masyarakat di Bumi Besemah. Hal itu dikemukakan Pemerhati Bahasa dan Budaya, Besemah, Temenggung Citra Mirwan, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Bahasa dan Sastra Besemah saat ini semakin terancam punah lantaran saat ini budaya modern lebih menominasi dalam kehidupan masyarakat Kota Pagaralam, Sumatra Selatan (Sumsel).

“Sebetulnya, langkah yang mesti dilakukan agar dapat kembali melestarikannya dengan memasukan Bahasa dan Sastra Besemah yang dikenal dengan istilah ‘Petata-Petiti’ Besemah ke dalam kurikulum sekolah,” ujarnya.

Ia mengatakan, hingga kini cukup banyak masyarakat terutama generasi muda sudah melupakan Bahasa dan Sastra yang pernah ada di Bumi Besemah ini.

“Upaya menyelamatkan warisan leluhur yang mempunyai khas dan nilai-nilai budaya yang cukup tinggi tersebut, salah satu solusinya dengan memperkenalkan Bahasa dan Sastra Besemah kepada anak dimulai dari sekolah dasar,” katanya seraya mengatakan generasi muda sekarang ini sudah banyak yang lupa bahkan tidak mengenal sama sekali Bahasa dan Sastra Besemah atau yang di kenal dengan bahasa dusun.

Lebih lanjut Mirwan mengatakan, terlebih lagi  karena bahasa dan sastra lokal ini sangat penting untuk diselamatkan dan sudah semestinya bila dimasukan kedalam kurikulum sekolah dari tinggkat SD hingga SMU. Sehingga sastra tutur asli Besemah itu dapat kembali dilestarikan.

“Sebenarnya bila diamati secara mendalam, khusus untuk sastra yang dimiliki masyarakat Pagaralam memiliki nilai edukasi yang tinggi terutama dalam hal memberikan pendidikan moral kepada masyarakat dalam menjalan kehidupan sehari-hari. Artinya penerapan bahasa dan sastra besemah masih cukup relapan dengan kondisi saat ini, karena ada banyak pesan-pesan moral yang disampaikan,” sebutnya.

Terpisah, Wakil Walikota Pagaralam Novirzah SE didampingi  Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Drs Safrani mengatakan, Bahasa dan Sastara Basemah sudah masuk kurikulum mulain dari tingkat Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Meski begitu, untuk menerapkan masuknya bahasa dan sastra Besemah dalam kurikulum masih terkendala belum siapnya SDM terutama untuk tenaga pengajar yang paham dengan sastra Besemah,” singkatnya.

Teks: Antoni Stefen




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *