UU PA Dianggap Jadi Penghalang Guru

perlindungan-anak

perlindungan-anak

PALEMBANG | KS-Dunia pendidikan di Indonesia, kini dipacu untuk peningkatan kualitasnya. Komitmen pemerintah pun menurut Ketua Dewan Pendidikan Sumsel, Prof Jalaluddin, sudah ditunjukkan dengan besarnya anggaran untuk dunia pendidikan.

Namun besarnya anggaran tersebut kata Jalaluddin, belum tentu meningkatkan mutu pendidikan. Pasalnya, dana yang besar tersebut tidak didukung oleh tenaga pengajar. “Hal ini disebabkan, adanya Undang-Undang Perlindungan Anak (UU PA). UU itu, menjadi penghalang bagi pengajar,” kata mantan Rektor IAIN Raden Fatah ini, Kamis (10/10).

“Saat ini, guru banyak datang mengajar sifatnya acuh tak acuh. Itu dikarenakan, banyaknya tekanan dari UU tersebut. Tenaga pengajar saat ini, takut memberikan tekanan kepada siswa/i lantaran dimanja oleh UU PA,” jelas Jalaluddin yang dibincangi di aula PT Pertamina UPMS, Plaju, Palembang.

Sebelum diterapkannya UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tersebut menurutnya, anak didik sangat segan dan takut terhadap tenaga pengajar. Tetapi saat ini, para siswa/i tidak merasa takut pada tenaga pengajar, yang akhirnya berdampak pada dunia pendidikan yang semakin merosot.

“Sebelum adanya UU PA, siswa/i sangat takut terhadap tenaga pengajar. Sebab mereka karena takut di hukum, bila tidak dapat mengerjakan tugas yang diberikan gurunya, Namun sekarang tidak lagi,” ucapnya.

Sementara  menurut Ketua Dewan Pendidikan Kota Palembang, H Azhari Said, berkurangnya mutu pendidikan saat ini diduga kuat salah satunya di pengaruhi UU PA. UU tersebut kata Azhari, sebenarnya sangat baik karena memberikan perlindungan terhadap anak dari segala macam bentuk kekerasan.

Namun UU tersebut, sering disalahgunakan oleh pihak tertentu. Sehingga saat guru memberikan hukuman, dianggap sebagai suatu kekerasan padahal hukuman diberikan agar siswa sadar akan tugas dan tanggungjawabnya untuk menuntut ilmu.

“Kita berharap pemerintah merevisi UU PA ini. Harus diberikan pembedaan, mana yang dilakukan di dalam sekolah dan mana di luar sekolah. Sebab di dalam sekolah, tidak ada yang dikatakan kekerasan, yang ada sifatnya pembinaan dan mendidik,” ucapnya.

Selain itu sambungnya, perlu juga dibangun kerjasama dan kesepakatan antara pengajar dan orang tua siswa untuk memaknai pembinaan yang diberikan guru terhadap anak mereka. Sehingga tidak ada ancaman bagi guru, ketika memberikan sanksi yang sifatnya pembinaan.

“Butuh kerjasama antara orang tua dan tenaga pengajar, dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Guru dan orang tua, harus berbagi tugas. Orang tua mengawasi anak-anaknya dalam belajar di rumah, sementara guru memberikan perkembangan pembelajaran anak didik mereka kepada orang tua sehingga tercapai peningkatan mutu pendidikan,” tukasnya.

Teks     : Aminuddin
Editor  : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *