Angka Kemiskinan Tinggi di Mura

Ilst. rakyat-miskin

Ilst. rakyat-miskin

MUSIRAWAS|KS–Rendahnya tingkat pengangguran terbuka dengan tingginya angka kemiskinan menjadi kontradiksi di Kabupaten Musirawas (Mura). Sebab selama ini tingginya angka kemiskinan identik dengan tingginya pengangguran.

Namun hal ini dibantah Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Mura melalui Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja, Hendra Amoer, Rabu (09/10) kemarin dikantornya, komplek Pemda Agropolitan Centre Muara Beliti.

Kepada wartawan ia menjelaskan rendahnya angka pengangguran terbuka berdasarkan data yang valid hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Disnakertrans. Sedangkan perbandingan dengan angka kemiskinan yang tinggi karena kriteria kemiskinan dengan defInisi pengangguran terbuka berbeda sehingga menimbulkan bias dan kontradiksi.

“Kriteria kemiskinan itu sendiri ada 14 item diantaranya rumah termasuk di dalamnya luas, lantai, dinding dan atap kemudian fasilitas MCK, sumber air, penerangan, bahan bakar termasuk juga kemampuan membeli makanan serta lapangan pekerjaan,” katanya.

Kriteria ini dalam penerapan terkadang jauh berbeda di masyarakat kita. Yang paling mudah kita lihat seperti fasilitas MCK, banyak rumah tangga di desa yang tidak punya MCK karena mengikut budaya dan kebiasaan ke sungai. Padahal dihitung dari segi penghasilan mereka mencukupi bahkan lebih artinya dia bukan pengangguran,” kata Hendra Amoer.

Menurut Hendra, definisi pengangguran terbuka adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja dengan umur 15 tahun ke atas yang sedang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha karena tidak punya pekerjaan, yang mencari pekerjaan karena tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Sedangkan penyebab pengangguran diantaranya pengangguran struktural, siklus, musiman dan psikional serta teknologi.

“Selama ini kita menilai pengangguran dilihat dari jumlah angka pencaker yang membuat kartu kuning, namun hal ini tidak bisa menjadi patokan karena biasanya angkatan kerja membuat kartu kuning karena syarat yang dimintakan perusahaan.

Padahal seharusnya semua angkatan kerja yang membutuhkan pekerjaan dapat membuat kartu kuning dengan ini dapat dimasukkan dalam bursa tenaga kerja baik melalui online maupun tertulis.

Dari bursa online ini perusahaan dapat mencari tenaga kerja sesuai dengan kriteria dan keahlian yang diinginkan,” papar Hendra Amoer.

Masih dikatakan Hendra, pendaftaran pencaker saat ini dapat melalui online walaupun pencetakan kartu kuning masih di sini.

Teks: Faisol

Editor: Sarono P Sasmito




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *