200 Hektar Hutan di Gumay Dirambah

Ilst. Hutan Lindung

Ilst. Hutan Lindungtan

 

MUARA ENIM,KSSebanyak 200 hektar hutan produksi konversi (HPK) di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim dirambah oleh oknum yang diduga preman setempat. Mirisnya, sebagian lahan itu sudah dibuka dan akan dijadikan perkebunan plasma sawit dan karet.

Hal ini terungkap saat tim penyidik dari Dinas Kehutanan Kabupaten Muara Enim meninjau langsung ke lokasi tersebut, Rabu (9/10/2013).

Kasi Kehutanan Muara Enim, Anang didampingi tim penyidik kehutanan Hermanda SH mengatakan, penyidikan ini dilakukan atas perintah kepala pemerintahan Kabupaten Muara Enim.

“Ya, kita diperintah Bupati Muara Enim dan Kepala Dinas Kehutanan setempat untuk mengecek kebenaran akan hal itu. Ini juga berkat laporan kades setempat,” ujarnya.

Bahkan, menurut dia, sebelum meninjau lokasi, pihaknya terlebih dahulu membentuk tim. “Tim ini untuk menyelesaikan dan menindak oknum warga setempat yang telah merambah hutan produksi konversi Muara Enim,” tegasnya.

Memang diakuinya, lahan itu tidak bisa dikuasai oleh seseorang tanpa izin Dinas Kehutanan setempat.

“Buka lahan itu tidak bisa sembarangan. Apalagi seluas itu, harus ada izin dari Menteri Kehutanan juga. Ya, bila terbukti oknum itu akan dikenakan Undang-Undang no 41 tahun 1999 tentang kehutanan yang memberi ancaman hukuman pidana bagi pelaku kejahatan kehutanan adalah hukuman penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar,” jelasnya.

Untuk itu ia mengharapkan agar oknum tersebut menghentikan aktivitas perambahan hutan. “Akan kita tindaklanjuti permasalahan ini,” tegasnya lagi.

Ketika ditanya berapa lama target untuk menyelesaikan permasalahan ini?. Menurut dia, pihaknya tidak ada target. “Intinya secepatnya kasus ini kita selesaikan. Dan kita akan meminta bantuan Dinas Kehutanan Provinsi,” imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Gumai, Cupik Sahar membenarkan adanya perambahan lahan sebanyak 200 hektar tersebut. “Saudara Jono yang merambah lahan itu tidak pernah meminta izin permasalahan ini kepada saya selaku kades disini,” tukasnya.

Bahkan, dirinya sudah tiga kali melayangkan surat pemanggilan kepada Jono. “Ya, terpaksa kita layangkan surat kepada Bupati dan Dinas Kehutanan Muara Enim untuk menindaklanjuti permasalahan ini,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan, lahan seluas 200 hektar itu sudah 2 hektar yang dikelola untuk dijadikan plasma sawit. Dan terdapat satu alat berat eksavator yang dipakai untuk membuka lahan tersebut.

Teks: Indra

Editor: Sarono P Sasmito




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *