Dinkes Hutang Rp 1,4 M

Ilst.

Ilst.

BANYUASIN|KS-Hingga saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes), Kabupaten Banyuasin tercatat memiliki hutang sebesar Rp 1,4 Miliar di sejumlah rumah sakit di Kota Palembang. Jumlah tersebut terhitung sejak tahun 2010-2012.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin, Ayuhan Awam didampingi Kabid Jaminan Sarana dan Prasarana Kesehatan Ferri Sinatra membenarkan adanya tunggakan tersebut. Menurutnya, jika rumah sakit segera melakukan klaim, dana berobat gratis itu bisa langsung dibayarkan.

“Mereka (RS –red),  menumpuk dulu tagihan, setelah setahun baru nagih. Masalahnya, kalau nagih di penghujung tahun,  Dinkes Banyuasin tidak mempunyai banyak waktu untuk proses pencairan, apalagi menjelang tutup anggaran. Tunggakan kami sekitar Rp 1,4 mliaran lebih, sejak tahun 2010 sampai 2012,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya menjanjikan tunggakan tersebut akan segera dilunasi tahun ini juga. Pengajuan dana untuk membayar utang itu telah disetujui oleh DPRD Banyuasin pada Paripurna IV Rancangan Perubahan anggaran dan pendapatan negara, Senin (7/10).

“Dananya sudah dibayarkan, tinggal menunggu proses pencairan saja,” ungkapnya.

Dikatakan Ayuhana, kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat di Banyuasin semakin meningkat. Salah satu indikatornya, setiap tahun jutaan penduduk Banyuasin tercatat memanfaatkan fasiltas berobat gratis.

“Masyarakat sangat terbantu dengan layanan berobat gratis ini, setiap tahun jumlah warga yang menggunakan layanan ini selalu meningkat,” katanya.

Penyakit yang di derita pasien beragam, mulai dari penyakit berat dan operasi besar, hingga penyakit ringan seperti infeksi saluran pernapasan (Ispa), diare dan lain-lain.

“Paling banyak pasien yang berobat terkena Ispa. Sebelum adanya layanan ini, kalau cuma pusing-pusing atau Ispa, biasanya warga belum akan ke Puskes untuk berobat. Sekarang kesadaran kesehatan sudah meningkat, dengan adanya program berobat gratis ini,” lanjutnya.

Dia menambahkan, layanan berobat gratis dilakukan berjenjang, mulai dari tingkat puskesmas sampai ke rumah sakit tipe A di RSUD Muh Hoesin. “Sengaja di buat berjenjang, agar masyarakat yang berobat tidak membludak di satu tempat. Kalau masih bisa ditangani di puskesmas, tidak mesti ke Rumah sakt. Tapi bila puskesmas tak mampu, baru dirujuk ke rumah sakit. Pokoknya sampai sembuh total,” katanya.

Teks : Diding Karnadi

Editor : Junaedi Abdillah

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *