Demi Menyambung Hidup, Petani Rela Jadi Buruh

petani

niBANYUASIN|KS-Meski diklaim sebagai pemasok beras terbesar di Sumatera Sumsel, namun nasib para petani masih jauh dari harapan. Bahkan nasib mereka kian hari kian menyedihkan.

Buktinya, saat musim paceklik, ratusan petani beralih profesi sebagai buruh harian. Hal itu terpaksa dilakukan untuk menyambung hidup.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Muara Sugihan. Sambil menunggu musim tanam tahun ini, para petani di kecamatan itu  beralih profesi sebagai nelayan dan buruh harian.

Ironisnya, sekedar untuk menyambung hidup, para petani nekat mencari rezeki hingga ke Kota Palembang.

Suratno (43), warga Muara Sugihan mengatakan, produksi panen tahun ini jauh merosot jika dibandingkan dengan tahun yang sebelumnya.

“Bayangkan pak, dalam satu hektar biasanya kami bisa mendapatkan 70 karung sampai dengan 80 karung, sekarang hanya 40 karung. “ kata Suratno.

Meski demikian, sambung Surato, dirinya tetap menyimpan sebagian berasnya untuk jatah paceklik. “Setiap tahun pasti terjadi paceklik, dulu saja waktu petani makmur lantaran produksi beras  berlimpah, masih terjadi paceklik. Apalagi sekarang dengan produksi yang menurun drastis,“ ujarnya.

Dilanjutkan  Suratno, sebelum memasuki musim tanam. Para petani kebanyakan beralih profesi menjadi nelayan, ada juga yang menjadi buruh harian, bahkan ada yang nekat sampai ke Palembang.

”Sekarang sudah mulai dirasakan musim paceklik. Kami bersama warga lainnya banyak yang keluar mencari uang. Kalau mau mengandalkan hasil panen yang lalu, rasanya tidak cukup, sebab hasil produksinya menurun. ” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Manto (50)  petani lainnya. Menurut Manto untuk kebutuhan sehari – hari masih dapat terpenuhi. “ Tapi tidak tahu kedepan, karena saya cuma punya 3 hektar sawah. “ tuturnya.

Ia menambahkan, dalam satu hari, ia harus memberikan makan kepada istri dan lima anaknya, dengan asumsi per hari menghabiskan beras 3 Kg. “Saya tidak tahu cukup apa tidak, yang jelas beras yang kami dapat untuk membayar biaya pupuk dan benih, sedangkan sisanya kami jual, dan hanya sedikit sekali yang disimpan untuk masa paceklik nanti, “ urainya.

Sementara itu, Kepala UPTD Distanak Banyuasin, Subadri SP, saat ditemui diryang kerjannya mengatakan, secara umum memang terjadi penurunan produksi pada tahun ini, namun demikian Kabupaten Banyuasin tetap surplus.

“Hasil pantauan kita di lapangan, memang terjadi penurunan produktivitas sekitar 15 persen, namun kita tetap surplus dan tidak berpengaruh terhadap ketahanan pangan yang ada. Selain untuk dijual, para petani juga umumnya masih menyimpan beras sebagai stock untuk keluarga. Stock ini sendiri diperkirakan cukup hingga musim tanam berikutnya“ katanya.

Soal harga ditingkat petani, sambungnya, juga masih dalam batas kewajaran. Untuk varietas Ciherang dan Kromojoyo berkisar antara Rp 7000 hingga Rp 7500 per kilogram, sedangkan varietas IR 42 dan Sanafi Rp 8000. Harga lebih tinggu jika dibandingkan dengan harga pembelian pemerintah (HPP) di Dolog sebesar Rp 6500.

Demikian pula dengan distribusi. Menurut Subardi, beras yang ada di Muara Padang dan Muara Sugihan dan Kecamatan lain, pada umumnya di distribusikan ke Palembang, baru dari Palembang didistribusikan kembali ke tempat – tempat lain, bahkan hingga ke luar Sumsel.

Teks : Diding Karnadi

Editor : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *