Petani Gropyokan Tikus Dapat Hadiah

Ilst. Gropyokan Tikus | antarafoto.com

Ilst. Gropyokan Tikus | antarafoto.com

MUSIRAWAS|KS  – Belum adanya cara modern untuk membasmi hama tikus yang kian merajalela membuat masyarakat maupun Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura masih menggunakan cara tradisional yakni dengan gropyokan atau membasmi tikus secara massal.

Kepala Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura melalui Kabid Produksi Tanaman Pangan, Tohirin kepada wartawan, Senin (7/10), mengakui cara gropyokan merupakan salah satu cara tradisional yang digunakan para petani untuk membasmi hama tikus.

Menurut Tohirin, DTPH gencar bersama petani melakukan gropyokan membasmi tikus disawah, karena apabila tidak dibasmi dapat menyebabkan kegagalan panen padi bagi petani.

“Gropyokan tikus telah kita lakukan sejak dari awal tahun di tempat-tempat yang berbeda. Dengan adanya pembasmian hama tikus diharapkan dapat menekan perkembangan tikus yang sering merusak tanaman padi petani,” tuturnya.

Untuk lebih bersemangat, sambung Tohirin, pihaknya memberikan hadiah bagi petani yang dapat membunuh tikus dengan nilai seekor tikus dihargai Rp 1.000,-.

“Ya, ini agar para petani lebih semangat untuk melakukan gropyokan dan membasmi  tikus yang dapat mengganggu tanaman padi mereka sendiri. Disamping itu kami juga memberikan door prize di tempat gropyokan bagi petani bersangkutan,” papar Tohirin.

Tohirin menambahkan, upaya pemberantasan hama tikus harus sering dilakukan petani, dan tidak harus selalu menunggu dari DTPH karena perkembangan dari sepasang tikus dalam satu tahun dapat mencapai 2.088 ekor.

“Berdasarkan penelitian, dalam tiga bulan sekali tikus akan beranak dan dalam jumlah banyak dan berpasangan. Bila sekali beranak enam pasang kemudian tiga bulan kemudian dari enam pasang anak beranak lagi maka populasi tikus tidak akan terbendung dan ini dapat merugikan petani,” irainya.

Pesatnya perkembangan tikus, masih katanya, karena pemangsa karnivora (ular red), sudah tidak ada lagi. “Hal ini disebabkan perburuan ular oleh manusia itu sendiri,” kata Tohirin.

Teks : Faisol

Editor : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *