Pupuk di Sumsel Terancam Langka

pt-pusri

Ilst PT Pusri

PALEMBANG, KS-Pupuk di Sumatera Selatan (Sumsel), terancam langka. Pasalnya, pemerintah mulai tahun ini mengurangi pembelian pupuk subsidi disebabkan karena tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan para petani yang semakin tinggi.

Kepala Dinas Pertanian dan Hotikultura Sumsel melalui Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasana, Erwin Noorwibowo menyebut,  pengurangan pembelian pupuk subsidi itu juga dilakukan karena anggaran untuk membeli pupuk tersebut juga sanggup untuk memenuhi kebutuhan pupuk subsidi untuk petani.  “Pengurangan pembelian pupuk subsidi ini, kita kuatirkan akan menyebabkan pupuk subsidi akan langka,” kata Erwin yang dibincangi di ruang kerjanya, Senin (23/9).

Ia menjelaskan, tahun ini pembelian pupuk subsidi mengalami penurunan yang sangat drastis. Pemerintah disebutkannya, hanya menganggarkan untuk pembelian pupuk urea sebanyak 562.732 ton, pupuk SP 36 337.350 ton, pupuk ZA 94.141 ton, pupuk NPK 372.644 ton dan organik 448.827 ton.

“Namun yang disetujui, tidak sesuai dengan permintaan.  Pupuk urea misalnya, di setujui hanya 150.000 ton, pupuk SP 36 40.000 ton, pupuk ZA 10.000 ton, pupuk NPK 175.000 ton dan  organik 27.000 ton,”ucapnya.

“Ini artinya, permintaan pupuk yang kita sampaikan ke Kementrian Pertanian, tidak sesuai dengan dengan realisasinya. Dengan kondisi ini, kita akan membatasi pembelian pupuk subdisi ditingkatan petani di Sumsel,” sambungnya.

Agar pupuk di tingkatan petani tidak langkah, Dinas Pertanian dan Hotikultura Sumsel sebutnya, telah  mengambil langkah antisipasi. Petani kata Erwin, diminta juga harus mempunyai rencana definitif kebutuhan pokok (RDKK) untuk pembelian pupuk bersubsidi.

“Itu sangat penting, sebagai data kita untuk pengajuan pupuk subsidi ke pemerintah pusat. Kita sudah mengajukan pupuk untuk urea sebanyak 72.483 ton, SP-36 sebanyak 19.965 ton, ZA 3.796 ton, NPK 15.000 ton dan pupuk organik 23.605  ton. “Pupuk itu, akan di stok untuk 8 kabupaten di Sumsel,” tukasnya.

Sebelumnya Wakil Gubernur (Wagub) Sumsel, Eddy Yusuf menyebut, minimnya jatah pupuk subsidi untuk petani di Sumsel lebih disebabkan karena permintaan dari pemerintah kabupaten/kota yang memang sedikit. Alhasil, pemerintah pusat mengabulkan alokasi itu sesuai dengan permintaan.

Eddy mengatakan, pengalokasian pupuk bersubsidi bagi Sumsel dari PT Pusri Palembang yang notabene merupakan tempat berdirinya pabrik pupuk PT Pusri Palembang yang lebih sedikit dibanding provinsi lain bukanlah hal yang aneh.

Sebab, kejadian ini sudah terjadi sejak dahulu tanpa ada perbaikan pola kerja di tingkat kabupaten/kota. “Tak hanya pupuk, Lampung bahkan mendapat alokasi semen yang lebih besar ketimbang Sumsel, yang merupakan tempat pabrik PT Semen Baturaja (PTSB) berdiri. Jadi wajar ketika terjadi kekurangan atau alokasi pupuk bersubsidi di Sumsel masih dinilai terlampau sedikit, artinya kesalahan terjadi sejak di tingkatan kabupaten/kota, yang bertugas mendata kebutuhan pupuk bersubsidi bagi petani di wilayahnya masing-masing,” ungkapnya.

Teks     : Imam Mahfudz Ali

Editor  : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *