Ekonomi Kreatif Besemah MENANTI ‘BAPAK ANGKAT’

ekonomi-kreatif--Kerajinan-rotan-warga-Dusun-muara-Tenang-(1)

ekonomi kreatif -Kerajinan rotan warga Dusun muara Tenang.

SAAT  melintas di jalan Lahat-Pagaralam, tepatnya di Dusun Muara Tenang, Kelurahan Perahu Dipo Kecamatan Dempo Tengah, akan banyak dijumpai kios-kios penjual kerajinan rotan dan bambu di sepanjang jalan. Terlihat beraneka kerajinan dari rotan dan bamboo seperti Kinjagh (keranjang gendong), keranjang parcel, Nighu (alat pembersih beras), topi petani dan hasil kerajinan lainnya terpajang merupakan hasil kerajinan tangan warga setempat.

Sebagian warga di Dusun Muara Tenang bekerja sebagai pengrajin bamboo dan rotan, disamping pekerjaan mereka sebagai petani. “Kerajinan tangan yang ada sudah dimulai sekitar belasan tahun lalu karena sebelumnya hanya dipergunakan  untuk perlengkapan rumah maupun perlengkapan ke kebun saja. Mengingat banyaknya pengunjung yang datang  ingin memiliki hasil kerajinan ini, sehingga hasil karya warga setempat banyak diminati pembeli,” kata Ani (34) salah seorang pengrajin rotan.

Menurut Ani, salah seorang pengrajin rotan setiap harinya  mampu membuat rata-rata lima hingga sepuluh jenis kerajinan. Itu  tergantung besar kecil ukuran kerajinan  yang dibuat. “Hasil penjualan kerajinan ini mampu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari maupun biaya anak-anak sekolah,” ucapnya.

Meskipun begitu, lanjut Ani, dengan minimnya modal yang dimiliki menjadi kendala bagi pengrajin dalam meningkatkan usaha kerajiian ini, begitu pula bahan baku mulai sulit didapatkan. Padahal jumlah permintaan pasar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bisa dikatakan peluang usaha kerajinan rotan sedikit menjanjikan.

“Sebetulnya permintaan untuk hasil kerajinan terus mengalami peningkatan, tapi pengrajin masih terkendala minimnya modal. Ditambah lagi bahan baku rotan kian hari semakin sulit didapatkan, mengingat keberadaan pohon rotan hanya tumbuh di hutan rimba,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Ani, proses membuat keranjang parcel,  tentunya harus  menarik dengan mengutamakan penampilan keranjangnya yaitu  penempatan ornamen-ornamen yang ditempelkan pada keranjang mempunyai banyak bentuk dan pilihan. Semakin menarik keranjang yang dibuat, semakin banyak peminatnya tentunya harga jualnya pun tinggi.

“Untuk satu buah keranjang parcel polos dihargai Rp 15.000, tapi berbeda dengan keranjang penuh dengan ornament berbagai bentuk bisa mencapai Rp35.000 hingga Rp40.000,” jelasnya.

Ditambahkan Ani, kerajinan rotan seringkali menjadi alternative dalam memilih perlengkapan rumah. Selain karena teksturnya yang khas, rotan juga memliliki kelebihan yakni,  lebih ringan, kuat, elastis, serta lebih murah jika dibandingkan kerajinan berbahan kayu maupun  plastik.

“Diharapkan adanya perhatian pemerintah  dalam bentuk bantuan modal usaha  terhadap pelaku kerajinan asli daerah Besemah, karena kendala modal inilah menjadi penyebab utama,” harapnya.

Pengrajin rotan dan bamboo lainya, Aisyah (70) mengatakan, untuk menghasilkan satu buah ‘kinjagh’ maupun ‘nighu’ dibutuhkan bahan yang baku bamboo maupun rotan yang berkualitas.  Karena rotan dan bamboo juga memiliki kelemahan terhadap rayap sehingga perlu diberikan lapisan pewarna anti rayap.

“Pembuatan kinjagh dan Nighu membutuhkan waktu sehari penuh, karena kerajinan ini tergolong cukup rumit, tentunya dibutuhkan tenaga pengrajin yang mampu menganyam rotan maupun bamboo dengan begitu rapi,” katanya.

Memadukan bahan rotan dengan bahan bambu,  sambung Aisyah, dapat menghasilkan produklebihmenarik, selainmemberikansentuhanwarnatermasuk pula memperindahtampilan.

“Walaupundemikian, produk olahan tangan masyarakat setempat masih tergolong sederhana, mengingat harga jual masih relative murah. Selain itu, modal usaha yang dimiliki masih tergolong minim,” ucapnya.

Masyarakat  Besemah saat ini, tambah Aisyah, kurang begitu minat terhadap hasil kerajinan rotan maupun bambu, mengingat kerajinan yang ada hanya dipergunakan untuk kebutuhan ke kebun saja. Diharapkan hasil karya kerajinan masyarakat Besemah ini dapat tetap bertahan, meskipun  peruntukannya sudah mulai ditinggalkan.

“Walaupun kurang begitu diminati lagi akibat kemajuan jaman, diharapkan bentuk warisan leluhur ini tetap selalu terjaga, sehingga nilai-nilai budaya di Tanah Besemah  ini terjamin kelestariannya,” ujar Aisyah mngakhiri pembicaraan.

TEKS : ANTON STEFEN

EDITOR : SARONO P SASMITO




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *