ISG Berbeda Dengan Olimpiade

isgPALEMBANG | KS-Tenggat waktu pendaftaran sebagai negara yang ingin menjadi peserta dalam perhelatan Islamic Solidarity Games (ISG) III, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), 22 September – 1 Oktober 2013 mendatang, sudah resmi ditutup pada Jum’at (31/8) lalu. Tetapi nyatanya masih saja ada beberapa negara yang ingin menyusul ingin ambil bagian.

Terdata, hingga Kamis (30/8) 38 negara tercatat akan sudah mendaftar entry by name, sementara 4 entry by number. Sebelumnya terhitung pendaftaran pada Jum’at (16/8) lalu, ada 38 negara yang telah menyatakan diri untuk merapat ke perhelatan ISG, dengan rincian 32 negara entry by name, enam entry by number.

Terhitung Rabu (29/8) kemarin, pesertapun bertambah menjadi 42 negara, dengan rincian 37 yang telah entry by name dan 5 entry by number. Dan pada update terakhir Minggu (1/9), sudah terdaftar 42 negara entry by name, dan satu lagi yang tinggal menunggu yang saat ini masih berstatus entry by number, yakni Gabon.

Wakil Ketua Deputi I INAOISG, Syaidina Ali berharap tidak ada penambahan lagi negara peserta untuk ke depan. Tetapi juga tak dapat dihentikan terkait pendaftaran dengan pertimbangan kesolidaritasan antar negara Islam. Sebuah keistimewaan ISG dibandingkan olimpiade.

“Saat ini, terhitung (1/9) ada 43 negara peserta, 42 entry by name dan satu lagi (Gabon-red) masih kita tunggu konfirmasinya. Kenapa kita tunggu, tak lain karena ISG bukan olimpiade yang bisa diputuskan langsung tanggal sekian harus ditutup dan sudah bisa diputuskan berapa negara yang pasti ikut, seperti Sea Games ataupun PON dan event olahraga lainnya,” kata Syaidina di Sekretariat Panitia Daerah di Hotel Djayakarta Daira, Senin (2/9) kemarin.

Berdasarkan kesepakatan, pendaftaran sejatinya ditutup pada (31/8) lalu. Dengan diperpanjangnya masa pendaftaran seakan menunjukkan tak konsisten dengan bukti masih ada saja negara yang ingin mendaftar dan ditunggu.

Syaidina menegaskan bahwa panitia daerah, sekaligus tuan rumah ISG, Sumatera Selatan (Sumsel) sebenarnya sudah menutup pendaftaran. Namun keputusan bukan ada di tangan panitia daerah, melainkan panitia pusat. “Kalau kita di Sumsel sudah tidak menerima lagi. Tapi kan keputusan ada di panitia pusat, kita tidak bisa menolaknya,” ungkapnya.

Diakui Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sumsel ini, jikapun ada penambahan, maka akan kesulitan bagi Sumsel mengingat perlu adanya penambahan tempat tinggal, transportasi, dan akomodasi lainnya. “Yang jelas kesulitan yang mendasar adalah menentukan jadwal pertandingan. Jika bertambah yang terpaksa akan dirombak,” bebernya.

Sebagai informasi, pertandingan bola basket, voli indoor dan bola kaki saja sudah dilakukan lot drawing di Griya Agung. Ketiga cabor tersebut dipastikan tidak ada lagi penambahan jika ada negara baru yang mendaftar untuk mengikuti cabor tersebut.

“Untuk sekarang belum bisa pastikan berapa atlet yang akan mengikuti ini. Tapi yang pasti untuk cabor yang sudah dilakukan lot drawing tidak akan diterima lagi. Inilah konsekuensinya yang telat mendaftar,” tukasnya.

TEKS: SADAM MAULANA

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *