Sekolah Jadi ‘Lahan’ Bisnis

duit

Lahat | KS-Pemerintah menetapkan guru, tenaga kependidikan, satuan pendidikan atau komite sekolah dilarang melakukan penjualan buku kepada peserta didik. Bagi mereka yang melanggar aturan tersebut akan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan perundang-undangan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bahkan, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Fasli Jalal pada tahun 2005 sangat menekankan agar tidak terjadinya penjualan buku disekolah.

Di Kabupaten Lahat, ditemukan adanya dugaan penjualan buku seperti terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA), Negeri 2 Lahat. Pihak sekolah diduga menjual buku semua mata pelajaran dari kelas satu hingga kelas dua.

Modus penjualan buku inipun dilakukan dengan penempatan buku cetak dari penerbit di koperasi sekolah dan siswapun disuruh membeli buku tersebut hingga mencapai Rp 500ribu-Rp 1juta.

Kepala SMA N 2 Lahat melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Managemen mutu Doslan mengatakan, pihaknya menjual buku ini tidak secara langsung kepada siswa akan tetapi melalui guru bidang study masing-masing.

Menurutnya, pihak sekolah tidak memaksakan setiap siswa untuk membeli buku pelajaran.

“Ada beberapa buku paket yang tidak dijualkan di koperasi sekolah yaitu buku paket kesenian, dan olahraga selain dari buku tersebut semuanya buku paket tersedia di koperasi, kalau masalah harga saya tidak tahu kalau keseluruhan kelas sebelas mencapai Rp 400ribu. Kalau siswa mau silahkan beli, kalau tidak ya, tidak apa,” tuturnya.

Dia menyebutkan, dengan permasalahan yang timbul, bukan guru yang langsung menjualkan buku kepada siswa melainkan koperasi. “Guru memang tidak kami suruh menjual buku makanya penerbit kami suruh untuk menitipkan bukunya ke koperasi,” katanya.

Terpisah salah seorang wali murid kelas XII, Septian Zohri,S.Pd.I mengatakan, dirinya sangat keberatan atas perintah pihak sekolah untuk membeli buku mata pelajaran disekolah dengan dengan harga mencapai Rp 500ribu.

“Kami berharap kepada sekolah agar tidak menjualkan buku karena tidak semuanya bisa terbeli buku tersebut. Kami mohon baik kepada sekolah agar membebaskan buku tersebut,” kata Septian, kepada Kabar Sumatera .

 

Teks : Jumra Zefri

Editor : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *